Anwar The Untold Story dan Kemungkinan-Kemungkinan Lain

“Kalau takut dengan risiko, tak usah bicara soal perjuangan”

ITULAH kalimat yang diucapkan Anwar Ibrahim (yang diperankan Farid Kamal) dengan dialek melayu ketika mencoba meyakinkan anggota kabinet saat Anwar Ibrahim ditugaskan Mahathir Mohamad (diperankan Hasnul Rahmat) menjadi Deputi Perdana Menteri Malaysia.

Film Anwar The Untold Story yang dirilis 18 Mei 2023 ini merupakan film biografi yang mengisahkan kegetiran karir politik Anwar Ibrahim. Film yang disutradarai Viva Westi ini mengambil alur mundur, di mana lakon film ini merupakan kilas balik dan ingatan-ingatan Anwar Ibrahim ketika mendekam dalam kubangan limbah penjara.

Sebagai film biografi, idealisme yang dibangun dari didikan keluarga dan dukungan istri, Wan Azizah (diperankan Acha Septriasa) dan perjuangan politik anti korupsi Anwar Ibrahim mendominasi film ini. Oleh sebab itu, yang menjadi milestones dan pembangun cerita film ini saat Anwar Ibrahim menjadi Menteri Keuangan dan Deputi Perdana Menteri yang dalam dunia nyata periode tahun 1991 sampai 1998.

Tanpa ingin mendahului, menurut saya inilah periode “persisten” dan ujian bagi karir politik Anwar Ibrahim. Antara Maju atau mundur, kalah-menang, dan hidup mulia atau mati syahid – seperti ungkapan ustaz-ustaz itu. Pilihan-pilihan ini sahih adanya, ketika adegan dalam film tersebut, memperlihatkan political interest dari keluarga Anwar Ibrahim sendiri, Mahathir Mohamad, para cukong, IMF, dan ilmuwan penghamba kekuasaan.

Syukurnya dan kita tahu semua, Anwar Ibrahim “tegak lurus” dengan ketua umum, eits dengan idealismenya untuk memberantas rasuah. Walaupun ia tahu, banyak yang tidak suka dengan kebijakan-kebijakannya. Namun, Anwar Ibrahim menggunakan kuasanya untuk mewujudkan idealismenya itu. Seperti yang ia ungkap sendiri: “sudah puluhan tahun saya bercakap soal isu ini, baru sekarang saya ada kuasa untuk melaksanakannya”.

Di sini, sebagai penonton, kita dapat melihat Anwar Ibrahim sebagai sosok lain yang ngeyel. Ngeyel dengan idenya. Namun, sebagai seorang laki-laki, di mana sumber kekuatan Anwar Ibrahim? Tiada lain, tiada bukan dari Wan Azizah dan ibunya Che Wan (yang diperankan Dewi Irawan). Dua orang yang tempat Anwar kembali, saat jengah dan keberaniannya untuk melawan di titik nadir.

Baca Juga  Oksigen Baru untuk Pancasila

Anwar Ibrahim dan Dunia Melayu

Pengungkapan lika-liku jalan politik Anwar Ibrahim tidak disentuh sama sekali dalam film ini. Jadi, penonton bisa saja kehilangan konteks dalam menilai Anwar Ibrahim dan kebingungan dini jika menonton film ini. Sebab, tidak ada, koreksi jika saya salah, pretext atau pemberitahuan sejenisnya untuk menjembatani pikiran penonton dan sosok Anwar Ibrahim.

Penonton akan langsung disuguhi dengan adegan penangkapan dan upaya-upaya perlawanan yang dilakukan Anwar Ibrahim. Sehingga penonton yang tak paham siapa dan bagaimana Anwar Ibrahim membangun jalan politiknya sejak muda di Malaysia mungkin akan mengalami adanya gap dari alur cerita film ini.

Selain itu, penonton juga akan langsung melihat sosok Anwar Ibrahim yang telah menjadi Menteri Keuangan dengan segala problemanya. Padahal jika ditilik lebih jauh, ia telah menduduki jabatan di kementerian di bawah Mahathir Mohamad sejak 1980-an. Bukankah dengan begitu, jabatan sebagai Menteri Keuangan hanyalah kelanjutan dari cerita hidup Anwar Ibrahim? Mungkin, di sinilah, menurut saya pentingnya mengkontekskan cerita dalam film biografi agar penonton bisa melihat secara utuh siapa yang dikisahkan.

Lebih jauh, film ini menyoroti konflik antara Anwar Ibrahim dan Mahathir Mohamad sebagai “dua orang yang lain”. Mahathir yang banyak dipengaruhi oleh kroni-kroninya akhirnya memecat Anwar Ibrahim sebagai menteri. Padahal, jika cerita film ini menyorot lebih jauh karir politik Anwar Ibrahim, jelas ada tangan Mahathir Mohamad yang bermain di balik suksesnya. Karena sebagai golden boys-nya.

Dengan begitu, penonton akan melihat dinamika dan pasang surut hubungan Anwar Ibrahim dan Mahathir Mohamad lebih baik dan komprehensif. Jelas, ini menarik bukan? Bukan semata-mata hanya menjadikan Mahathir Mohamad sebagai pihak “antagonis” yang terjebak dalam pusara korupsi dan kepentingan. Dengan begitu, penonton hanya akan menilai bahwa semua derita Anwar Ibrahim selama dipenjara didalangi si “antagonis” itu.

Walau begitu, menurut saya, dari segi wacana film ini membangunkan dan menyadarkan ada yang tidak baik-baik saja dalam politik dunia melayu ini. Politik yang sejak zaman teri Anwar Ibrahim sampai ke zaman kakap Anwar Ibrahim belum terselesaikan: ya masalah korupsi dan penetrasi para cukong yang kerap mengganggu kebijakan dan tajamnya idealisme pemimpin. Hal-hal ini jelas dirasakan Anwar Ibrahim dalam film ini.

Baca Juga  Tawaran Alternatif-Progresif untuk Perda Syariah

Film, Dunia Melayu, dan Diplomasi Kebudayaan

Mengapa saya katakan dunia melayu? Sebab, dalam film ini aktor-aktor yang terlibat kebanyakan dari negara serumpun kita: Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Karena keterlibatan aktor dari beberapa negara ini bisa jadi inilah film pascanasionalisme – meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma – sebab tidak hanya melibatkan aktor-aktor Malaysia saja atau hanya mengindentitaskan pada sebuah bangsa tertentu sebagaimana yang ia sebut sebagai film nasional.

Menariknya, keterlibatan aktor-aktor Indonesia dalam film ini banyak memerankan adegan-adegan sebagai cukong di belakang Mahathir Mohamad dan para pemberi suap kepada Anwar Ibrahim. Namun, kerja cukong di belakang Mahathir Mohamad berhasil mempengaruhi sikap Mahathir ke Anwar Ibrahim. Oleh sebab itu, Mahathir yang awalnya percaya saja dengan Anwar Ibrahim goyah dan memecatnya.

Mungkin saja, banyaknya aktor Indonesia yang berperan sebagai cukong dan tukang suap itu dalam film ini diniatkan sebagai arena diplomasi kebudayaan. Malaysia dan Anwar Ibrahim ingin mengatakan begini sebagai kritiknya: “Indonesia, masalah bangsa kita ini sama, korupsinya banyak. Suapnya juga lebih banyak. Kita sama-sama melayu. Para cukong kalian juga banyak yang bermain di Malaysia. Jadi, kalau boleh ditindak ya, biar kami di sini juga tenang. Jangan lemahkan KPK-nya”. Jelas, dalam dunia nyata kritik ini tidak akan disampaikannya.

Itu hanya pesan lain. Namun, film sebagai salah satu arena diplomasi kebudayaan untuk mengkritik negara lain agar melihat kelakuannya sendiri, kenapa tidak?

Dan sosok Anwar Ibrahim, selain sebagai buku tebal tentang politik, juga sebagai manusia tukang kritik yang cerita-ceritanya tentang penjara, buku, Pakatan Harapan, UMNO, dan Malaysia Madani jelas tak terhitung.[] 



Ilustrasi: Limu News Malaysia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *