Safar, Menakar Baik dan Buruk Manusia

DALAM kehidupan kita di muka bumi dengan modal sosial dan peradaban yang kita miliki, Tuhan memposisikan kita sebagai saksi atas amaliah kehidupan saudara kita. Posisi kesaksian itu tercatat dalam pengakuan Tuhan sebagai bahan pertimbanganNya dalam memvonis posisi seseorang yang menghadap keharibaanNya sesuai persaksian kita.

Jika persaksian kita baik—Tuhan akan memberikan pengakuan baik dan posisi yang baik di sisiNya kepada orang yang kita persaksikan. Demikian sebaliknya jika persaksian kita tidak baik—Tuhan menjatuhkan putusan menjadi orang yang tidak baik dan memberikan posisi yang tidak menguntungkan terhadap seseorang yang kita persaksikan.

Pengakuan Tuhan bahwa kita punya andil atas kesaksian kita terhadap saudara-sudara kita telah ditegaskan dalam hadits qudsiNya “Antum syuhada Allah fil Ardhi”  Kalian adalah saksi-saksi Allah di bumi. Pertanyaannya, adakah ukuran atau standar dari seseorang yang dapat menguatkan persaksian kita sebagai saksi yang benar dan bisa diterima?

Satu kisah di zaman sahabat Umar bin Khattab dapat kita rujuk sebagai jawaban bahwa yang menjadi standar persaksian yang dapat menguatkan persaksian kita tentang keadaan saudara kita terurai dalam kisah singkat berikut.

Alkisah, diceritakan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ada seorang laki-laki berkata kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya si Fulan itu orangnya baik.” Umar balik bertanya, “Apakah engkau pernah bersafar bersamanya?” Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.”

Kata Umar, persaksianmu belum dapat diterima, kebaikan dan keburukan saudaramu akan kamu ketahui jika kamu sudah pernah mengadakan safar atau perjalanan bersamanya, di sanalah Allah biasanya membuka sedikit atau mengizinkan terbukanya siapa seseorang itu yang sebenarnya.

Dari cerita singkat percakapan Umar dengan salah seorang sahabat tersebut dapat memberikan pemahaman kepada kita bahwa ternyata barometer kebenaran kesaksian kita tentang baik dan buruknya seorang teman manakala kita pernah melakukan perjalanan musafir bersamanya. Di situlah akan nampak keaslian pribadi seseorang.

Orang yang memiliki sifat pelit, akan kelihatan bagaimana membuat perhitungan dengan teman-temannya. Misalkan dia memiliki bekal makanan yang dia bawa, makanannya pasti disimpan terus, begitu giliran temannya yang membuka bekal, dia ikut mengambil, dan bekalnya sendiri dibawa pulang kembali. Lalu, saat membayar ongkos atau membeli jajanan, tangannya seolah-olah tersangkut di dalam sakunya sehingga lama mengeluarkan uang, supaya dibayari oleh temannya.

Orang yang memiliki sifat dasar kikir dan pemurah akan nampak dalam safar, jika dia orang kikir maka dalam musafir dia cenderung menghitung dirinya sendiri dalam kebersamaan baik didalam kendaraan, didalam ruang makan, didalam kamar tidur, dan sebagainya.

Tetapi sebaliknya jika orangnya pemurah, maka dia tidak hanya menghitung dirinya sendiri di tengah teman safarnya, tetapi menghitung dirinya dalam kebersamaan yakni bersama dalam suka, bersama dalam duka, atau dalam bahasa sosialnya senasib sepenanggungan.

Bagi orang yang sifat dasarnya rajin, dalam bermusafir dia akan memperlihatkan sikap tidak berpangku tangan, tidak cuek dengan keadaan, cekatan mengerjakan sesuatu yang memang harus dikerjakan tanpa ada rasa iri terhadap yang lain.

Bagi yang taat dalam beragama, dia akan memperlihatkan ghirah agama dalam musafirnya, tidak lalai dalam beribadah, tidak melupakan amalan-amalan syariat yang biasa dikerjakan, kewajiban-kewajiban agamanya  tidak larut dalam kesibukan dan rasa capeknya, bahkan terkadang lebih taat dalam menjalankan ajaran agamanya karena sadar sedang berada di posisi musafir.

Demikian pula orang yang senang bermain-main dan santai-santai, dalam musafir akan nampak keaslian sifatnya, cenderung mencari hiburan-hiburan, cenderung mencari lokasi-lokasi yang mendatangkan kesenangan dunia, dia aktifkan kesempatan aji mumpungnya, dan dia habiskan waktu musafirnya hanya untuk bersenang-senang dan senda guarau.

Itulah barometer “safar” yang dijadikan standar baik atau buruknya seseorang oleh syariat agama yang dipertanyakan oleh Umar dalam kisahnya di atas. Lalu pernahkah kita menyoal diri masing-masing? Hampir semua kita pernah mengadakan safar, pernah bersama-sama dengan orang lain bepergian, pernah bersama-sama dengan keluarga menempuh perjalanan jauh, bahkan pernah bersama kolega mengadakan perjalanan ke luar kota.

Tanyailah diri masing-masing, adakah kita ini termasuk orang yang dipersaksikan “menjadi orang baik” oleh teman bepergian kita atau sebaliknya? Tentang diri kita—kitalah yang paling tahu. Tentang hati kita—kitalah yang paling tahu. Tentang pikiran kita—kitalah yang paling tahu.

Ada sekelumit pesan dari Imam Syafi’i yang patut kita renungkan untuk senantiasa membuat diri ini menjadi baik dalam persaksian orang-orang yang ada di sekitar kita, tentang pribadi kita, tentang sikap kita, tentang omongan kita, tentang perjalanan hidup dan amaliah kita, maupun tentang sosial kita.

Innaman nasu hditsun ba’dahu, fakun haditsan hasanan liman wa’a” Sesungguhnya manusia itu bahan cerita bagi orang-orang di belakangnya, maka jadilah bahan cerita yang baik bagi orang yang mendengarkan cerita tentang kita.[] 

Ilustrasi: m.lampos.co  

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *