Menyoal Iqra dari Lisan Jibril

AYAT al-Qur’an yang pertama turun adalah perintah membaca (iqra’) yang turun di sebuah gua kecil yang bernama gua Hira’, yang memiliki ronga sepanjang 3,5 meter dan lebar 1,5 meter, letaknya berada 4 meter dari atas bagian puncak gunung yang bernama Jabal Nur. Lokasi tersebut berada di kawasan Hejaz berjarak sekitar 7 kilometer dari Masjidil Haram.

Jabal Nur merupakan gunung bebatuan yang sangat terjal dan cadas. Nabi saw melakukan uzlah (pengasingan diri) di dalam gua yang berada di atas gunung tersebut, untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk masyarakat penyembah berhala.

Baca juga: Tradisi Khataman Al-Quran di Desa Roi-Roka Bima

Dalam gua yang sempit, di kegelapan malam yang sunyi, Nabi berada di dalam gua sendirian, kala itu beliau sebagai manusia yang ummi, tidak mengenal huruf dan tidak bisa membaca. Tiba-tiba beliau dihentakkan dengan suara perintah membaca dari lisan Jibril. Sebagai manusia biasa, kondisi dan peristiwa dramatis di kegelapan malam waktu itu, jelas membuat sang Nabi merasa sangat kaget dan syok.

Jibril mengulang suara yang mengandung perintah membaca itu sampai empat kali. Dan Nabi sebagai manusia ummi tetap menjawab, ma ana biqari’. Saya tidak bisa membaca.  

Yang menjadi pertanyaan, mengapa Tuhan mengutus malaikat Jibril untuk menemui seorang hamba yang ummi dan membawa perintah membaca? Dan mengapa pula perintah membaca itu diulang sampai empat kali oleh Jibril?

“Bacalah!” merupakan perintah, seruan, dan tugas ilahiah yang ditujukan kepada seluruh manusia melalui hamba yang amat mulia yakni Muhammad saw, dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan peradaban.

Kemudian menurut Prof Dr H Nasaruddin Umar, Imam Besar masjid Istiqlal Jakarta, bahwa empat kali malaikat Jibril mengulang bacaan Iqra’ sebagai perintah membaca, mengandung isyarat bahwa mempelajari al-Qur’an itu harus melalui tahap-tahapan dan sekaligus menandai empat level tingkatan pemahaman al-Qur’an, yakni How to Read (Bagaimana membaca al-Qur’an), how to learn (Bagaimana mempelajari al-Qur’an), how to think, how to understand (Bagaimana memahami al-Qur’an), dan how to disappear (Bagaimana mentadabburi ayat Tuhan dengan upaya menyelam ke dalam ayat tersebut).

Iqra’ yang pertama diperdengarkan Jibril kepada Muhammad memiliki makna dan isyarat, bahwa secara simbolik kita diperintah dan dianjurkan Tuhan untuk bagaimana bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar—How  to read, bagaimana membaca al-Qur’an dengan benar dan fasih, sesuai dengan tata cara baca (ilmu tajwid) dan sesuai dengan makharijulhuruf yang tepat. 

Ini menjadi level pemahaman al-Quran yang pertama, sebatas bisa membaca dan menghafalnya sesuai dengan sifat dan bunyi dari masing-masing huruf dan harakatnya.

Baca juga: Tidak Sadar Menjadi Orang Kalah

Bacaan Iqra’ yang kedua yang dibaca oleh malaikat Jibril kepada Muhammad memiliki isyarat bahwa umat Islam harus berusaha memahami makna yang tersirat di dalam ayat serta berusaha memahami arti dan tafsirnya—How to learn. Bagaimana agar kita memahami pesan yang dibawa oleh al-Qur’an.

Ini menjadi level proses pentadaburan al-Qur’an yang kedua, al-Quran bukan hanya dibaca dan dihafal, akan tetapi berusaha untuk memahami makna yang dikandung oleh ayat yang kita baca.

Bacaan Iqra’ yang ketiga dari Jibril kepada Muhammad mengandung isyarat bahwa umat Islam harus mempelajari al-Qur’an dengan pendekatan emosional. Artinya al-Qur’an harus bisa mengintervensi perilaku pembacanya—How  to think (understand). Bagaimana al-Qur’an dipahami sebagai petunjuk atau way of life dalam kehidupan kita, menjadikan al-Qur’an sebagai pijakan dari sepak terjang dan paradigma dalam menjalani kehidupan.

Hal ini telah dipraktikkan oleh Nabi saw dalam hidupnya sebagaimana pernyataan Aisyah ra tatkala ditanya seputar akhlak Nabi saw, kata Aisyah, bahwa akhlak Nabi itu adalah al-Quran (khuquhu al-qur’an).

Bacaan Iqra’ keempat, oleh malaikat Jibril kepada Muhammad memiliki isyarat bahwa kita hendaknya menyadari bahwa membaca ayat-ayat Tuhan itu senantiasalah dengan penyadaran total—how to disappear, bagaimana agar di dalam membaca ayat Tuhan sedapat mungkin kita menyelam ke dalam ayat tersebut atau merasakan hilangnya diri—melebur dalam ketakjuban terhadap kekuasaan dan keagungan Tuhan.

 Level keempat ini adalah level tertinggi, yakni membaca ayat-ayat Tuhan yang tertulis maupun yang terhampar di alam semesta raya dengan “Bismi robbik“, dengan pandangan yang sangat sadar bahwa Tuhan Mahaagung dan Mahatinggi, tidak ada ciptaan-Nya yang sia-sia.

Dengan modal kesadaran tinggi akan kemahabesaran Tuhan itulah, kita takluk pada ketakjuban hingga terbetik dalam hati untuk mengaku dengan tulus  bahwa “Robbana ma kholaqta hadza batilan“. Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.

Baca juga: Tirakat dengan Al-Quran: Pengalaman Seorang Santri

Itulah empat level dalam memahami al-Qur’an, sebagai jawaban dari isyarat mengapa lisan Jibril mengulang iqra’ sampai empat kali?, dan hendaknya kita harus memiliki obsesi untuk dapat memahami al-Qur’an dengan beranjak naik dari level ke level berikut hingga ke level tertinggi, sehingga al-Qur’an benar-benar dapat mengintervensi perilaku, sikap, pemikiran, dan pandangan kita.

Jika kita telah sampai kepada pemahaman iqra’ pertama sampai dengan iqra’ keempat, maka itulah yang sesungguhnya dinamakan mengkhatamkan al-Qur’an, yakni membaca, mendalami, menghayati atau mengamalkan, dan menyingkap tabir ayat-ayat di dalam al-Qur’an.[]  

1 komentar untuk “Menyoal Iqra dari Lisan Jibril”

  1. Nanda Zahratu Raudah

    Alhamdulillah…
    Barakallah ayahndaku ….
    Tdk asing kata “How to Read, learn, think n dissappier” #kuliahku memory unforgatable 🙂

    Semoga Allah memudahkan saya pribadi dan kita semua untuk mengamalkan tahapan2 belajar AL -Qur’an de level awal smpe level teringgi….karna harus diyakini bahwa AL Qur’an mmng way of life untuk seluruh ummat islam…

    Semangat berpuasa jami’an ,,,10 malam terkhir semoga dpt kita lalui dengan penuh amalan2 yg bernilai ibadah…aamiin aamiin ya Rabbal alaamiin ,Allahumma sholli a’laa sayyidina Muhammad Wa’alaa alisayyidina Muhammad, Laahaula walaa Quwwata illaabillahil a’liyyil adzim 🙂

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.