Ngaku Saja Kalau Tidak Suka Puasa

TEMPAT pertemuan itu dikepung para warga setempat yang jumlahnya seperti sedang ada perang yang mendesak. Tempat pertemuan itu terlihat lebih bersih dari biasanya, karpet-karpet yang masih ditanggalkan di tembok pagar, kilatan pembersih lantai yang semerbak baunya. Namun yang paling menyita perhatian adalah hadirnya 300 orang yang tengah duduk bersila di tempat pertemuan itu, mereka tengah berpakaian yang sangat melambangkan model dan warna Islam.

Suasana riuh-rendah sejak pertemuan itu dibumikan pada sebuah sore. Penuh dengan nuansa bahagia. Mereka sedang menunggu-nunggu keputusan dari kiai mereka, salat tarawih jadi dilakukan atau tidak. Dan ketika hasil sidang isbat selesai diputuskan, wajah para warga itu semakin merona. Puasa Ramadan akan dimulai besok pagi.

Para warga itu dengan kompak segera mencerabut karpet-karpet yang sudah kering dan wangi untuk digelar di tempat pertemuan itu. Tanpa ada yang saling mengomandoi, mereka bekerja sendiri dengan efektif. Tampaknya, kabar puasa Ramadan akan tiba membuat cahaya hati mereka mampu mengefisienkan kinerja tubuh mereka untuk ngopeni masjid. 

Baca juga: Saatnya Mendengar Banjir Berkhotbah

Sambil menunggu Maghrib tiba, beberapa anak berhimpitan untuk berebut giliran tadarus al-Qur’an. Ada anak-anak yang menunggu sambil membersihkan mushaf-mushaf al-Qur’an yang berdebu kemudian menyusunnya kembali di rak semula. Ada remaja-remaja masjid yang terlihat gagah sedang memasang spanduk yang bertuliskan, “Selamat datang Ramadan, kami sangat rindu padamu!” Ada bapak-bapak yang berkerumun seperti tengah mendiskusikan sesuatu yang berhubungan dengan progres pembangunan masjid, dan mungkin ada satu-dua bapak-bapak yang melakukan perjanjian singkat tentang kapan waktu terbaik untuk njajal kemampuan ayam jantan mereka masing-masing.

Ada juga satu-dua dari ibu-ibu yang gopoh memastikan pintu rumahnya sudah dikunci atau belum sebab semua keluarganya serempak diajak ke masjid saat itu. Semua benar-benar terlihat ceria dan kompak. Mereka menyambut Ramadan dengan antusias suka cita. Namun, Mas Rokhim, seorang warga desa yang rumahnya berselebahan dengan masjid justru hanya leyeh-leyeh di kursi depan rumahnya sambil merokok. Wajahnya mbesungut saat menyaksikan para warga lain tengah beramai-ramai di masjid.

“Selamat datang Ramadan, kami sangat rindu padamu!” teriak Mas Rokhim dari depan rumahnya. Dibacanya tulisan di spanduk itu secara berulang-ulang.

Mas Rokhim ini adalah bujang—meski ia sudah berumur 37 tahun— yang pekerjaannya sebagai kuli bangunan. Ia kerap kali menjemput pekerjaannya di luar kota yang mengakibatkan dirinya sendiri jarang ada di rumah dan bergaul dengan tetangga. Dan hal itu membuat warga lain tampak apatis dengan kehadiran Mas Rokhim di desa mereka. Tapi meskipun begitu, ada satu tetangga yang masih mengenal betul dan tahu seperti apa Mas Rokhim. Jujun kemudian menghampiri rumah Mas Rokhim. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang telah mengusik hati Mas Rokhim, dan Jujun ingin tahu.

“Tumben di rumah, Mas?”

“Iya, kebetulan proyeknya sudah selesai. Ngomong-ngomong siapa yang menyuruh anak-anak itu memasang spanduk, Jun?”

“Kalau idenya dari saya, Mas. Saya yang mengusulkan.”

“Selamat datang Ramadan, kami rindu padamu.” Mas Rokhim kembali membaca tulisan di spanduk itu, kali ini ia hanya bergumam. “Terus semisal menjelang lebaran nanti, tulisannya diganti lagi?”

“Ya pasti diganti, Mas. Seperti tahun-tahun sebelumnya. ‘Ramadan, kami masih merindukanmu, tapi kau cepat berlalu.”

Mas Rokhim terdiam sejenak. Sepertinya ia masih tenggelam dalam kata-kata yang ada di spanduk itu. Jujun agak bingung untuk bisa membuyarkan lamunan Mas Rokhim, padahal ia berencana untuk mengajak Mas Rokhim ikut siap-siap salat jemaah di masjid.

“Apakah benar kamu merindukan Ramadan, Jun?”

“Ya, benar, Mas,” kata Jujun agak canggung.

“Dan apa betul kamu senang berpuasa?”

“Eh? Maksudnya gimana, Mas?”

“Kamu tahu kan, kalau puasa di bulan Ramadan ini hukumnya wajib?”

“Iya, tahu, Mas.”

“Menurutmu, kenapa orang muslim itu diwajibkan berpuasa?”

“Ya… Biar semakin bertakwa, Mas.”

“Itu kan, tujuannya, Jun.”

“Lah, terus kenapa diwajibkan kalau gitu, Mas?”

“Menurutmu, kenapa ada ketentuan khusus bahwa setiap muslim harus berpuasa? Kenapa Allah sampai mewajibkan puasa bagi kita?”

“Kan saya yang bertanya tadi, Mas.”

“Coba dipikir, Jun. Sesuatu yang diwajibkan itu adalah sesuatu yang semua manusia tidak suka mengerjakannya. Kalau manusia suka melakukannya, lalu untuk apa diwajibkan? Tanpa diwajibkan pun, manusia pasti sudah akan melakukannya sendiri.”

“Ya tapi, kan, tetap saja puasa itu hukumnya wajib, Mas.”

“Iya, memang seperti itu, Jun. Tapi masalahnya di sini, apakah kamu memang suka berpuasa?”

“Insya Allah betul, Mas.”

“Ya sudah kalau begitu. Nanti setelah kalian selesai salat jemaah, kamu bisa mengajak semua jemaah masjid untuk mengusulkan sama Allah biar puasa Ramadan tidak diwajibkan, apalagi cuma satu bulan dalam setahun. Karena manusia, termasuk kamu juga, mengatakan kalau suka berpuasa. Toh, kalau sudah yakin suka, berarti tanpa diwajibkan pun, kalian—manusia, pasti akan tetap berpuasa, kan?”

“Ya, nggak gitu juga, Mas.”

“Lah terus gimana? Kamu suka puasa atau tidak, Jun? Jujur saja.”

“Ya sebenarnya sih agak nggak suka, Mas.”

“Terus salat, apakah kamu juga suka salat? Salat lima kali sehari, apa kamu suka? Dan nanti malam ada tarawih, apa betul kamu suka mengerjakan semua itu?”

“Agak nggak suka juga sih, Mas.”

“Agak atau memang tidak suka, Jun?”

“Em, agak, sih Mas. Tidak suka.”

“Lah terus kenapa kamu seolah merindukan Ramadan begitu, Jun?”

“Ya, gimana lagi, Mas. Wong setiap tahunnya begitu.”

“Dan kamu juga ikut-ikutan? Padahal kamu sendiri bilang kamu tidak suka puasa, bahkan tidak suka salat.”

“Siapa juga yang berani, Mas…”

“Ya itulah masalahmu, Jun. Sudah semestinya kamu berterus terang sama Allah kalau kamu itu sebenarnya nggak suka salat, nggak suka puasa, tapi meskipun nggak suka, kamu tetap ikhlas melakukan semua itu sehingga derajatmu tinggi di hadapan Allah. Kalau kamu suka ya, tidak tinggi derajatmu, Jun.”

Baca juga: Homo Sacer: Moderasi Beragama, Apakah Masih Idealis dan Realistis?

Walah, Mas…”

Walah kenapa? Gini, aku tanya ke kamu, orang suka, orang senang, lalu orang itu melakukan apa yang ia sukai dan senangi, di mana hebatnya? Kamu suka bakso, lalu ada orang yang memberi kamu bakso dan kamu makan, apa hebatnya? Wong kamu pancen suka bakso. Tapi kalau kamu nggak suka rujak, dan istrimu tiba-tiba membelikanmu rujak, lalu kamu ikhlas memakan rujak itu padahal kamu nggak suka rujak, bukankah justru tampak lebih hebat?”

“Iya juga, Mas…”

“Jadi sudah yakin kalau kamu benar-benar suka puasa?”

“Ya sudah, saya akan berterus terang sama Allah kalau saya sebenarnya tidak suka puasa, tapi saya akan tetap menaati perintahnya dan ikhlas melakukannya.”

“Nah gitu lebih baik. Jangan pura-pura terus.”

Sampeyan besok puasa to, Mas?”

“Apa aku harus bilang dan pamer kalau besok aku akan puasa?”

“Yah… Salah lagi. Ya sudah, kalau gitu, Mas. Saya ikut bantu-bantu beres-beres dulu, sudah mau maghrib.

Jujun meninggalkan Mas Rokhim yang masih tetap berdiri di tempatnya. Kemudian, sambil bersedekap, Mas Rokhim kembali membaca tulisan yang ada di spanduk itu keras-keras, mirip tingkah seorang anak yang bahagia karena baru bisa membaca. Sementara orang-orang dan anak-anak yang ada di sekitar masjid itu sibuk tandang gawe sambil menertawakan Mas Rokhim.[]
Ilustrasi: Kompas.TV

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.