Tanda Jejak Buya Syafi’i

SAYA BERTEMU Buya terbilang jari. Saat itu saya tengah menyelesaikan program magister kedua saya di ilmu sosial, Universitas Negeri Yogyakarta. Buya mengajar kami dalam mata kuliah Pluralisme. Datang menengok kami dua Minggu sekali, bergantian dengan asistennya.  

Buya tidak banyak ngoceh saat mengajar. Tapi kata-katanya tandas, daging semua. Buya lebih suka memberi kesempatan kepada mahasiswanya. Kami biasanya cas-cus saja. Buya iyakan, untuk semua pendapat atau argumen. Manggut-manggut dan tersenyum.

Di akhir, Buya membagi-bagi tulisan ke kami semua. Buya sendiri yang fotokopi dari kocek Buya. Biasanya tulisan Buya sendiri di Resonansi Republika atau Opini Kompas. Kadang tulisan orang lain. Habis itu Buya kasih wejangan, “Baca ya, baik-baik!” Lalu pergi.

Baca juga: Intersubjektivitas: Pendekatan Alternatif dalam Studi Agama

Mengapa Buya selalu membagi materi bacaan di akhir? Juga mengapa mahasiswa yang diminta berbicara lebih dulu? itu jadi rasan-rasan di kalangan kami. Kami buat asumsi, Buya tidak mau menggurui, tidak mau jadi absolut atau hegemonik, dalam pikiran dan tindakan.

Kami biasanya malu hati. Setelah baca-baca tulisan yang Buya bagikan, tahulah betapa banyak naifnya pendapat atau argumen kami. Apalagi argumen-argumen itu kami sampaikan dengan penuh jumawa. Tapi Buya tetap menyungging senyum.

Kami selalu berharap Buya datang kembali Minggu depannya. Buya-lah guru yang dirindukan itu. Saya yang saat itu kuliah mondar-mandir UIN-UNY, menemukan Buya tempat berlindung, setelah “dibanting” di kelas-kelas UIN.

Kelas-kelas di UIN benar-benar mengucek-ucek. Profesor Amin Abdullah paling grinta dalam hal “membanting”. Tapi itulah cara begawan dari Muhammadiyah ini juga “meledakkan” etos akademik kami, semua muridnya. Yang melekat dan berpengaruh sampai kini.

Jika ketemu Buya, saya susupkan kegelisahan akademik yang tak tuntas di kelas-kelas UIN. Sambil merangkul, Buya berdawuh, “Anda masih muda, nanti bisa jadi mujaddid atau mujahid ilmu,” Meski diucapkan dengan bercanda, saya merinding. Tidak sampai segitunya.  

Buya punya gaya sendiri dalam mendidik. Kepada mahasiswanya, Buya percaya ada potensi otoritas dalam diri mereka. Semakin banyak mahasiswa yang berpikir dan berbicara, semakin banyak pula sebaran butir pengetahuan. Ini salah satu kredo pluralisme Buya.

Baca juga: Jatuh-bangun Etos Intelektual-Ulama dan Gerakan Kultural yang Bisa Dilibati

Baca Juga  Adrinal Tanjung, Kisah Pertemanan dan Penerang "Kegelapan" Plat Merah

Semula kami sangka Buya “jaim” dengan tidak banyak ngomongnya itu. Kami nggerundel. Merasa tidak dapat banyak dari nama besar itu. Ke sini baru tahu, itu ajaran epistemologi Buya: pengetahuan itu menyebar. Tidak merezim: numpuk pada satu otoritas.

Kredo dan praksis Foucault-ian dari Buya ini nyeni. Tapi juga bikin pelik. Suatu saat saya minta Buya jadi pembimbing. Buya menyodorkan nama lain. Bukan karena sibuk atau meremehkan topik saya. Buya seloroh, “Saya jemu ikut kritik lagi pendidikan Islam.”  

Buya sodorkan koleganya, Prof Husain Haikal. Nama yang ingatkan pada penulis Hayatu Muhammad. Menyusun tesis mengenai pluralisme pendidikan Islam di Indonesia, menjadi pergulatan. Dengan Prof Haikal saya sering “bertengkar”. Tapi berakhir jadi tukang pijitnya.   

Ada kehangatan dalam interaksi terbatas ini. Pancarannya bukan sekedar deru asap yang mengepul dari sekam yang diam-diam membara. Tapi percikan spirit, dari permenungan intens seorang begawan. Kita-kita yang awam ini, tapi ingin belajar, pasti meletup.  

Benar kata sastrawan Riki Damparan Putra, Buya itu perapian. Buya menyerap cahaya, menghimpunnya, dan menyebarkannya kembali kepada yang butuh. Dalam kebekuan pergaulan dan gerakan sosial, kita butuh perapian. Perapian Buya.

Perapian Buya tak kenal padam. Ia terus menyala, memberi kehangatan bagi kita yang mulai dingin pergaulan sosial. Ia juga menjadi ruang publik, tempat bagi yang berbeda-beda bisa ngumpul menyatu. Merasakan hangatnya api keteladanan.

Sebagai perapian, api Buya tidak berkobar-kobar. Buya tidak menyambar-nyambar. Kata-katanya teduh, tapi sengit merasuk hati. Tangannya tidak nunjuk-nunjuk sebagai perkakas hegemoni. Tapi lebih banyak diulurkan untuk merangkul, membesarkan jiwa.

Baca juga: Rekonstruksi Nalar Pemikiran Jamaluddin Al-Afghani

Seperti terbaca dari buku Riki, Berdiang di Perapian Buya Syafii, juga buku-buku karya Buya, Buya bukan pendaku, yang mendaku sebagai paling otoritatif dalam pengetahuan dan keteladanan. Itulah mengapa kita terdorong menjadi otoritas, sekaligus menjadi tawadhu.

Sejatinya, Buya tidak hendak menjadi perapian, jika perapian itu membuat para pendiang menjadi kaum senderan. Bukan juga api unggun, yang dikelilingi oleh kaum klangenan. Buya itu tanda jejak yang memberi arah ke mana selanjutnya mencari.

Jika Buya menunjuk, maka telunjuk Buya itu semiotika gerak. Ajakan untuk tidak eksklusif, taqlid, dan jumud. Ajaran untuk tidak berpaku pada satu – apalagi satu-satunya – pakem pengetahuan, kearifan, dan keteladanan. Juga pada kekakuan identitas. Telunjuk itu berkata, “Sana, perjumpalah, di luar sana ada liyan-liyan yang kaya!”

Baca Juga  Periode-Periode Terbentuk dan Berkembangnya Mazhab Asy-Syafi'i

Maka, para Syafi’i-an terlihat menjadi manusia tanpa henti. Tiada sekat dan batas. Jika pun jeda, itu transit sebentar saja pada etape ilmu dan etos. Untuk pengendapan, agar ada kejernihan. Lalu pergi mencari titik-titik perjuampaan baru. Membersamai yang liyan dan tradisinya. Membentuk kosmopolitanisme Indonesia. Yang kita butuhkan.[]    


Ilustrasi: Indopos.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *