Mimpi Panjang yang Direncanakan

KITA semua pasti pernah bermimpi saat tertidur pulas, bahwa apa yang terjadi dan teralami ketika bermimpi, seakan-akan kejadian yang sebenarnya, dan saat bermimpi  kita tidak menyadari bahwa saat itu kita sedang bermimpi.

Apa yang sedang menimpa kita saat di dalam mimpi, di mana kita merasakan semuanya seakan-akan benar terjadi, entah kita bermimpi sedang diliputi oleh suasana atau kejadian yang menyenangkan atau menggembirakan, atau mengalami situasi dan keadaan yang menyedihkan atau menyusahkan, atau bahkan suasana di mana keselamatan diri sedang terancam. Semuanya teralami seperti benar adanya.  

Tak pernah terlintas sedikit pun bahwa saat itu kita sedang bermimpi. Baru kita menyadari bahwa kejadian itu hanyalah mimpi, setelah kita bangun dari tidur dan benar-benar terjaga. Di saat itulah kita merasa lega, bahwa ternyata kita sedang bermimpi.

Tahukah kita semua, bahwa skenario yang kita alami saat bermimpi di dalam tidur pulas kita adalah jalan cerita yang terbalik dari apa yang akan kita alami di sisi Tuhan nanti tentang kehidupan yang kita jalani saat ini?

Kehidupan yang sedang kita alami dan jalani saat ini tak ubahnya proses bermimpi dalam tidur yang panjang. Kita berkarya dengan segala daya upaya dan kemampuan yang kita miliki, dengan profesi yang kita jalani masing-masing, dengan bidang yang kita kerjakan masing-masing, dan dalam nuansa dan suasana yang kita rasakan masing-masing, semuanya benar-benar kita lakoni  dengan sadar.

Apa pun yang kita jalani saat di kehidupan sekarang adalah benar-benar terjadi, apa pun yang kita kerjakan saat ini benar-benar kita lakukan, dan apa pun yang kita alami dan pikirkan saat ini benar-benar kita rasakan.

Kita kadang terlalu percaya diri dalam beraktivitas di kehidupan saat ini, tatkala kita melakukan sesuatu yang benar dan yang manfaat, atau tatkala melakukan aktivitas yang keliru dan tidak wajar—kita menjalaninya dengan benar-benar nyata, kita merasa bahagia dalam menjalankan yang benar dan merasa galau dalam menjalankan yang tidak wajar, namun kedua perasaan itu kita lalui dengan suasana yang sama, berlalu begitu saja seakan-akan bermimpi, padahal itu kenyataan.

Baca Juga  Berniaga dengan Tuhan

Bila kita coba renungkan aktivitas kehidupan ini secara mendalam, tak ubahnya seperti berkativitas dalam mimpi, aktivitas kebaikan dan keburukan sering kita jalani dengan sebenar-benarnya, namun kita merasakannya antara disadari dan tidak disadari.

Kita baru menyadari bahwa sesuatu yang kita sudah jalani di kehidupan sekarang ini benar-benar terjadi, tatkala kita dibangkitkan dari peristirahatan panjang dari alam barzakh nanti, di sanalah kita baru sadar bahwa apa yang kita jalani di kehidupan sekarang, tak ada yang tidak tercatat dan tak terdokumentasi.

Kita baru sadar sesadar-sadarnya bahwa semuanya menjadi kejadian yang mengagetkan. Kaget oleh karena apa yang dulu saat di bumi kita jalankan remang-remang, ternyata tercatat jelas. Apa yang dulu saat di bumi kita merasa bahagia dengan aktivitas yang bisa dirahasiakan, ternyata terdokumentasikan dan terbaca dengan terang.

Apa yang dulu saat di bumi kita yakini tidak ada yang tahu kecuali hanya kita sendiri, ternyata terurai dengan jelas dan rinci. Apa yang dulu saat di bumi kita anggap hanya kesalahan kecil, ternyata menjadi besar karena volume menjalankannya berulang-ulang dan sering.  

Fenomena di atas ini telah Tuhan sampaikan kepada kita dengan jelas, bagaimana diri kita nanti saat berada di waktu kebangkitan, betapa kita sadar bahwa apa yang pernah kita jalankan akan terkuak dengan jelas, tercatat rapi, dan terekam dengan sempurna.     

Wa wuḍi’al kitābu fa taral-mujrimīna musyfiqīna mimmā fīhi wa yaqụlụna yā wailatanā māli hāżal-kitābi lā yugādiru ṣagīrataw wa lā kabīratan illā aḥṣāhā, wa wajadụ mā ‘amilụ ḥāḍirā, wa lā yaẓlimu rabbuka aḥadā”.

Terjemahannya, “Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. (QS: al Kahfi ayat 49)

Baca Juga  Puasa: Resonansi "Aku", "Kamu", "Dia", "Kami" dan "Kita"

Kalau bermimpi saat tidur pulas adalah kejadian di luar kesadaran, dan kita baru tersadar setelah bangun dari tidur, maka sepertinya kehidupan yang kita jalankan ini tak jauh beda dengan proses bermimpi saat tertidur, apa yang sekarang kita lakukan dan alami, akan benar-benar kita sadari nanti saat di mana kita dibangkitkan dan diperlihatkan kaleidoskop perjalanan panjang kehidupan kita selama di bumi.

Kalau bermimpi saat tertidur tidak bisa kita rancang, maka berbeda dengan perjalanan hidup kita saat ini adalah mimpi yang kita rancang, maka sebelum sampai pada ruang pertontonan kaleidoskop kehidupan kita di bumi, rancanglah seluruh aktivitas yang kita jalankan saat ini dengan sesadar-sadarnya, janganlah sampai apa yang kita lakukan saat ini, kita  baru menyadarinya nanti di saat  seluruh irama perjalanan hidup kita selama di bumi dipertontonkan kepada kita.[]

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *