Sabtu, 7 Februari 2026, bukan sekadar tanggal dalam kalender komunitas Nusantara Muslim California (NMC). Pagi itu menjadi ruang pertemuan antara tradisi, iman, dan sejarah perjuangan. Di Masjid At-Taqwa, para anggota komunitas berkumpul untuk gotong royong membersihkan masjid dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan.
Di permukaan, kegiatan itu tampak sederhana: memvakum karpet, merapikan lemari sajadah dan mukena, membersihkan seluruh ruangan, serta merapikan rumput dan lingkungan sekitar. Namun jika ditarik lebih dalam, aktivitas tersebut adalah narasi panjang tentang identitas, ketekunan, dan harapan Muslim diaspora.
Gotong Royong sebagai Identitas yang Menyeberang Benua
Gotong royong adalah salah satu jiwa sosial bangsa Indonesia. Ia bukan hanya praktik kerja bersama, melainkan etika hidup. Dalam gotong royong, yang bekerja bukan sekadar tangan, tetapi kesadaran kolektif.
Menariknya, nilai ini tidak luntur ketika berpindah geografis. Di Southern California—ruang yang dikenal dengan ritme hidup cepat dan budaya individualisme—komunitas NMC justru merawat kolektivitas. Mereka tidak sekadar berkumpul untuk salat, tetapi juga untuk bekerja bersama menjaga ruang ibadah.
Dalam konteks diaspora, gotong royong menjadi cara mempertahankan akar. Ia adalah memori sosial yang dihidupkan kembali. Kerja bakti menjelang Ramadan yang biasa dilakukan di kampung-kampung Indonesia kini hadir di tanah Amerika—menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Masjid yang Tidak Lahir Seketika
Masjid At-Taqwa saat ini masih berfungsi dalam bangunan sementara, sementara pembangunan masjid permanen tengah berlangsung. Izin pembangunan yang akhirnya terbit pada tahun 2025 bukanlah capaian yang mudah. Ia adalah buah dari sebelas tahun proses perizinan yang panjang.
Di Amerika Serikat, pembangunan rumah ibadah memerlukan tahapan regulasi yang kompleks—mulai dari aspek zonasi, izin lingkungan, hingga persetujuan administratif yang ketat. Bagi komunitas minoritas, proses ini sering kali menjadi ujian kesabaran dan konsistensi.
Sebelas tahun adalah rentang waktu yang memuat banyak hal: pergantian kepengurusan, dinamika komunitas, penggalangan dana, rapat demi rapat, konsultasi hukum, hingga doa yang terus diulang. Dalam konteks itu, gotong royong membersihkan masjid menjelang Ramadan bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan simbol keberlanjutan perjuangan. Masjid ini tidak lahir dari kemudahan. Ia tumbuh dari ketekunan.
Menyucikan Ruang sebagai Metafora Spiritual
Ramadan selalu hadir sebagai momentum penyucian. Umat Islam diajak menahan diri, memperbaiki niat, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Membersihkan masjid sebelum Ramadan menjadi simbol konkret dari proses itu.
Karpet yang divakum adalah metafora hati yang ingin dibersihkan. Lemari yang dirapikan mencerminkan niat yang ingin ditata ulang. Lingkungan yang dibersihkan menjadi simbol bahwa iman membutuhkan ruang yang layak.
Dalam tradisi Islam, kebersihan adalah bagian dari iman. Namun dalam konteks komunitas diaspora, kebersihan masjid juga merupakan pernyataan eksistensi: bahwa Muslim Indonesia hadir dengan tanggung jawab sosial dan spiritual.
Gotong royong itu menjadi latihan kerendahan hati. Tidak ada yang merasa lebih tinggi karena jabatan atau gelar akademik. Semua menyatu dalam kerja sederhana. Di situlah egalitarianisme Islam menemukan bentuknya yang nyata.
Solidaritas di Tengah Tantangan
Menjadi Muslim di negeri minoritas bukanlah pengalaman tanpa tantangan. Ada jarak budaya, perbedaan sosial, dan prosedur administratif yang sering kali tidak sederhana. Namun justru dalam situasi seperti itu, solidaritas menjadi kebutuhan mendasar.
Komunitas NMC memaknai masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi sebagai pusat pembinaan, silaturahmi, dan pendidikan. Di sanalah pengajian rutin diadakan. Di sanalah anak-anak belajar Agama dan saling bersilaturahmi agar tetap merasa memiliki komunitas sesama muslim yang berasal dari tanah Nusantara Indonesia. Di sanalah keluarga-keluarga diaspora menemukan rasa kebersamaan.
Gotong royong 7 Februari 2026 menjadi penegasan bahwa masjid tidak menunggu bangunan megah untuk hidup. Ia sudah hidup dalam kerja kolektif, dalam sapaan hangat, dan dalam komitmen merawat ruang bersama.
Dari Ruang Sementara Menuju Bangunan Harapan
Pembangunan masjid permanen yang kini berjalan adalah fase baru dari perjalanan panjang itu. Namun sesungguhnya, masjid telah lama berdiri dalam bentuk yang lebih esensial: kebersamaan.
Setiap sapuan pagi itu adalah bagian dari fondasi tak kasat mata. Setiap rumput yang dibersihkan adalah doa yang ditanam. Setiap mukena yang dilipat rapi adalah harapan akan Ramadan yang lebih khusyuk.
Di tengah prosedur pembangunan rumah ibadah yang sulit, perjuangan ini menunjukkan satu hal penting: bahwa rumah Allah dibangun bukan hanya dengan struktur fisik, tetapi dengan kesabaran kolektif.
Ramadan sebagai Titik Temu
Ketika Ramadan tiba nanti, ruang yang telah dibersihkan bersama itu akan menjadi saksi perjalanan. Azan tarawih yang dikumandangkan akan menggema bukan hanya di dinding bangunan, tetapi di hati orang-orang yang telah memperjuangkannya.
Di bawah langit California, gotong royong itu adalah bentuk cinta—pada iman, pada budaya, dan pada masa depan. Ia membuktikan bahwa Nusantara tidak hanya hidup dalam nostalgia, tetapi dalam praktik nyata.
Menyapu debu pada pagi itu sesungguhnya adalah menyemai doa. Doa agar masjid permanen segera rampung.
Doa agar Ramadan membawa keberkahan. Dan doa agar semangat gotong royong—yang telah menyeberangi samudra—tetap menjadi denyut kehidupan Muslim Indonesia di tanah diaspora.[]

Dosen UIN Mataram/Mahasiswa Doktoral Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal





