Abdul Wahid

Pengkaji agama dan budaya, direktur Alamtara Institute dan founder Kalikuma Library & EduCamp NTB

Cita-cita (Beban!) Seorang Guru Besar

APA YANG disebut cita-cita, bagi saya, sebenarnya kata lain dari beban. Ya, beban! Tuntutan dari amanat yang diemban oleh seorang akademia yang telah sampai ke jenjang akademik tertinggi itu.Bayangkan, nggak ada yang sebelum jadi profesor acak-acakan lalu klimis setelahnya. Yang terjadi sebaliknya. Sudah gitu, banyak pantangan, biar pun minum kopi di pinggir jalan (ya lah, […]

Cita-cita (Beban!) Seorang Guru Besar Read More »

Perdebatan Orang Bima tentang Konsepsi Tuhan dan Lainnya

MEMAHAMI al-Qur’an dengan pendekatan bahasa ibu ternyata menarik. Ada tantangan yang harus dilewati, tetapi setelah mampu menerobosnya, hati terasa plong dan cerah. Makna-makna al-Qur’an, yang dekat maupun yang jauh, rasanya dapat dengan mudah disentuh.  Ada tantangan linguistik, berupa banyaknya musykilat, kerumitan dan kompleksitas kata (mufradat) dan makna al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri punya i’jaz (kemukjizatan) dalam susunan

Perdebatan Orang Bima tentang Konsepsi Tuhan dan Lainnya Read More »

Tanda Jejak Buya Syafi’i

SAYA BERTEMU Buya terbilang jari. Saat itu saya tengah menyelesaikan program magister kedua saya di ilmu sosial, Universitas Negeri Yogyakarta. Buya mengajar kami dalam mata kuliah Pluralisme. Datang menengok kami dua Minggu sekali, bergantian dengan asistennya.  Buya tidak banyak ngoceh saat mengajar. Tapi kata-katanya tandas, daging semua. Buya lebih suka memberi kesempatan kepada mahasiswanya. Kami

Tanda Jejak Buya Syafi’i Read More »

IAIN (di) Bima: Pendefinisian tentang Masyarakat dan Komitmen Keilmuan

Survey HaloBima.net tentang aspek-aspek yang dianggap penting terkait dengan pendirian Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bima sudah dirilis (4 Juni 2021). Ada empat aspek yang diangkat untuk memperoleh tanggapan publik. Pertama, soal nama tokoh historis Bima yang dianggap layak menjadi nama kampus. Kedua, soal distingsi atau kekhasan kajian yang membedakan dengan perguruan tinggi keagamaan Islam

IAIN (di) Bima: Pendefinisian tentang Masyarakat dan Komitmen Keilmuan Read More »

Pergulatan Menjadi HMI

KETIKA berangkat kuliah ke IAIN Sunan Ampel Surabaya, 1989, saya menyandang identitas bawaan sebagai anak NU. Bukan karena saya sebagai aktivis IPNU, karena organisasi itu tidak terdengar di telinga saat saya di MA atau MTs. Tetapi karena bapak saya dikenal sebagai salah seorang tokoh NOe di Bima. Ke-NOe-an beliau bahkan genuine, ditimba dari sumbernya langsung,

Pergulatan Menjadi HMI Read More »

Antara Perlawanan dan Loyalitas Kaum Subsisten

Book ReviewJames C. Scott, The Moral Economy of the Peasant: Rebellion and Subsistence in Southeast Asia (Yale University Press, 1976)____________________Kaum petani di Asia Tenggara adalah kelompok masyarakat yang selalu rentan dengan berbagai ancaman, terutama ancaman kekurangan dan kegagalan dalam usaha pertanian. Tantangan alam atau ekologi merupakan hal utama yang harus dihadapi kaum tani. Bayangkan mereka

Antara Perlawanan dan Loyalitas Kaum Subsisten Read More »

Pembaharuan dari Masjid Kampung

Judul: Reformist Muslims in a Yogyakarta Village: The Islamic Transformation of Contemporary Socio-Religious Life Penulis: Hyung-Jun Kim Terbit: 2007 Penerbit: The Australian National University E-Press _________________________ Karya ini merupakan narasi historis-analitik mengenai pembentukan kultur, identitas, ideologi, praktik, dan pandangan sosia-keagamaan dari masyarakat heterogen di Jawa. Yogyakarta, tempat studi ini dilangsungkan, adalah kota dengan citra multikulturalisme

Pembaharuan dari Masjid Kampung Read More »

Terbitnya Guru Kampung

HAJI Harun adalah salah seorang perintis kampung Panggi di Kota Bima. Konon, kampung Panggi awalnya terletak di dataran tinggi sebelah timur Kota Bima, sekitar Oi Fo’o, Kadole, dan Nitu. Karena gerak bertani, orang-orangnya turun ke daerah lembah. Setelah menemukan tempat tinggal yang baik untuk kehidupan, maka penduduk yang masih tinggal di pegunungan dipanggil ke bawah

Terbitnya Guru Kampung Read More »

Cara Sebuah Masyarakat “Bersahabat” dengan Konflik

INI tentang cara suatu kebudayaan mengelola integrasi dan konflik sosial. Mari coba kita lihat satu contoh pengalaman masyarakat Muslim Bima di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tentang integrasi, orang Bima (Dou Mbojo) menolak segregasi, meskipun kenyataannya daerah mereka terbingkai dalam dua wilayah pemerintahan, yaitu Kabupaten Bima dan Kota Bima. Kuatnya kekerabatan masyarakat ini warisan sistem sosial

Cara Sebuah Masyarakat “Bersahabat” dengan Konflik Read More »

Jatuh-bangun Etos Intelektual-Ulama dan Gerakan Kultural yang Bisa Dilibati

ULAMA di sekitar kita semakin hari semakin langka saja. Satu demi satu para cerdik pandai dan pemeduli agama meninggalkan kita. Beberapa memang masih hidup, tetapi karena umur sudah semakin tua, mobilitas, daya jangkau, dan artikulasi dari yang tersisa itu tidak seperti dulu lagi, sudah jauh berkurang. Jika pun ada yang masih fresh, maka kuantitasnya tak

Jatuh-bangun Etos Intelektual-Ulama dan Gerakan Kultural yang Bisa Dilibati Read More »