Adrinal Tanjung, Kisah Pertemanan dan Penerang “Kegelapan” Plat Merah

KEHILANGAN keaslian demi menyenangkan orang lain adalah musibah terbesar, terutama bagi penulis. Daya rusaknya bahkan lebih buruk dari kematian.

Bayangkan, kita harus mengubah keaslian kita hanya karena perasaan tak enak atau malu kepada orang yang lebih senior atau tinggi kedudukannya dari kita, padahal apa yang kita sampaikan adalah sebuah fakta.

Melakukan self-censor itu membunuh kreativitas, produktivitas dan menindas kebebasan—sesuatu paling asasi dalam kehidupan tiap manusia. Alangkah merana dan menderitanya.

Di antara konsekuensi tak terhindarkan dari interaksi di media sosial adalah karena masing-masing orang, entah sebagai produsen maupun konsumen suatu gagasan, dapat saling terhubung dan berkomunikasi secara langsung.

Mereka bisa saling menyampaikan  pendapat, pandangan, dan argumentasi baik yang setuju atau menolak suatu gagasan tertentu yang tengah diperbincangkan. Ini merupakan watak media sosial yang memberikan kemungkinan ganda. Ini kelebihan tapi juga dapat menjadi kelemahan.

Kelebihannya, setiap penulis atau produsen satu gagasan dapat mengetahui secara langsung respon dan reaksi pembaca terhadap gagasan yang dilempar ke ruang publik, sehingga penulis dapat mencermati beragam tanggapan atas gagasan tersebut, baik yang menolak maupun yang menerima.

Baca juga: Dua Pendengaran Manusia: Catatan untuk Dua Suara Tuhan

Bagi para penulis, beragam respon tersebut cukup membantu untuk mengukur seberapa jauh gagasan mendapatkan perhatian publik. Penulis juga dapat mencermati argumentasi dan alasan mereka yang keberatan.

Keberatan yang disampaikan secara argumentatif tentu saja sangat membantu si Penulis untuk merefleksikan satu gagasan dari perspektif yang berbeda.

Tetapi kelemahannya, watak media sosial yang terbuka di atas juga mendorong orang menjadi egois, narsistik bahkan menempatkan dirinya sebagai “hakim” dan “jaksa” atas pandangan orang lain yang berbeda. Tak jarang di media sosial orang menyerang orang lain secara terbuka, sarkastis, personal, brutal, dan kasar.

Dalam konteks pengembangan budaya literasi, wacana keilmuan atau paling tidak tata nilai kesopanan tentu saja hal tersebut tidak sehat. Seperti halnya komunikasi di dunia nyata, maka interaksi dan komunikasi di dunia maya  pun sejatinya sama saja: harus tetap dilakukan berdasarkan tata nilai kesopanan dan fatsoen yang berlaku.

Saya termasuk yang hati-hati dalam meminta pertemanan di media sosial – terutama facebook (FB) -, media sosial paling akrab dengan saya. Saya hanya berteman dengan  orang-orang yang saya kenal dekat, sedangkan kepada  orang lain sangat jarang bahkan nyaris tak pernah saya lakukan. Salah satu alasannya adalah karena aktivitas menulis yang saya lakukan.

Di beranda FB, saya menulis topik  apa saja secara random atau  isu apa yang sedang aktual. Saya sudah hobi menulis sejak zaman mahasiswa baik di Washilah, koran kampus tempat saya berkiprah, dua Harian utama di Makassar (Pedoman Rakyat dan Fajar), Jakarta (Pelita dan Terbit) maupun di majalah Panjimas dan Suara Hidayatullah. Termasuk di Harian  Lombok Post, setelah saya tamat kuliah.

Baca juga: Menjaga Eksistensi Islam

Berhasil lolos di media di kala itu tentu tidak mudah, karena setiap tulisan harus melewati seleksi meja tim redaksi secara ketat. Karena itu, memasuki era media sosial FB, mendorong saya lebih produktif menulis. Tak jarang saya harus menulis beberapa  isu keagamaan dan politik yang sensitif.

Kendati saya menyampaikan gagasan secara standar dan ilmiah, nyatanya tetap saja menimbulkan reaksi negatif sebagian orang. Seorang pembaca saya pernah menulis di kolom komentar dan menyarankan saya agar  tidak menulis hal-hal sensitif.

“Udahlah, bapak nulis saja yang lucu-lucu seperti biasanya,” begitu sarannya. Sadar akan risiko media sosial maupun kehilangan keaslian diri seperti di atas, akhirnya secara guyon saya menjawab, “Maaf ya, saya ini penulis bukan pelawak yang dibayar untuk menghibur penonton, hehehe.”  

Setiap gagasan, ketika dilempar ke publik maka gagasan tersebut otomatis menjadi milik publik. Mereka  juga  memiliki hak  menafsirkannya secara berbeda dari apa yang dipahami oleh penulisnya.

Tetapi publik juga harus paham bahwa sang Penulis pun memiliki hak  untuk memahaminya berbeda dari apa yang dipahami oleh publik.

Nah, di tengah sikap selektif saya terhadap pertemanan di FB itulah, Pak Adrinal, penulis buku ini,  justru duluan meminta pertemanan. Ini cukup mengagetkan. Saya tidak ingat apakah dulu saya sempat mengecek profil Pak Adrinal  atau tidak sebelum dikonfirmasi . Sebab kadang saya malas memeriksa semua profil yang mengajukan pertemanan.

Saya juga tidak ingat persis, kapan kami mulai berteman. Yang saya ingat, Pak Adrinal tiba-tiba menghubungi saya,  meminta kontak saya dan berbaik hati menawarkan hendak mengirimkan beberapa buku karyanya secara gratis, hehehe.

Itulah awal mula perkenalan kami. Saya pun senang menerima buku-buku kiriman Pak Adrinal seperti  Birokrat Menulis-2, Bukan Birokrat Biasa, Birokrat pun Bisa Menulis, Trubute to Ayah.  Dua soft file buku beliau juga  dikirimkan dan meminta saya mengulasnya.

Saya juga diminta untuk menuliskan testimoni di dua bukunya. Sesuatu yang membuat saya malu sebagai dosen karena belum mampu menulis seproduktif beliau.

Buku  Membangun Komunitas  Satu Birokrat Satu Buku  ini merupakan buku baru yang akan diluncurkan, merekam perjalanan 16 tahun Pak Adrinal Tanjung bergelut dalam literasi, khususnya setelah dua tahun komunitas tersebut berbadan hukum”Yayasan Pusaka Adrinal Tanjung” (YPAT).

Ide mengukuhkan dalam bentuk yayasan terilhami setelah Pak Adrinal bertemu dengan Pak Thamrin Dahlan, pensiunan polisi berusia 70 tahun, tapi sangat konsen dengan kegiatan literasi (hlm. 139). Rencananya Sabisabu akan memperluas targetnya,  tidak lagi “Satu Birokrat Satu Buku” tapi “Semua Bisa Satu Buku”.

Pak Adrinal adalah sosok yang unik, seorang birokrat di BPKP Pusat dan Kemen-PAN&RB tapi juga menjalani takdirnya sebagai pegiat literasi yang tekun. Tak kurang dari 33 buku  sudah ditulisnya baik sebagai editor maupun menulis solo.

Ia sudah sering diundang dalam sejumlah acara kepenulisan maupun literasi di berbagai daerah. Aktivitasnya di bidang literasilah yang membuatnya lebih dikenal ketimbang sebagai birokrat. Ternyata gerakan Komunitas Sabisabu ini terus menggelinding bagai bola salju dan mendapat sambutan positif dari banyak kalangan, terutama birokrat. Lantas, mengapa birokrat harus menulis?

Seperti dinyatakan Pak Adrinal dalam buku ini, dunia birokrasi dengan segala dinamikanya adalah sumber pengetahuan. Jumlah birokrat memang kecil, tapi mereka adalah salah satu agen perubahan sosial terpenting selain tiga agen perubahan lainnya seperti dunia usaha, aparat keamanan dan kampus (akademisi).

Dalam birokrasi ada banyak sumber daya manusia, kompetensi, anggaran, dan juga legalitas. Sebagai sebuah sistem besar, mesin birokrasi adalah kekuatan efektif untuk mendorong transformasi jika dikelola secara baik.  

Berdasarkan data Badan Kepegawaian Negara (BKN) per Juni 2019, jumlah ASN di Indonesia mencapai 4.286.918  orang. Kategori terbesar adalah PNS dengan jabatan fungsional tertentu, yakni 50,17 persen atau 2.150.747 tenaga kerja.

Jabatan fungsional umum  dengan total 1.676.185 tenaga kerja atau 39,10 persen. Kategori terkecil adalah jabatan struktural sebesar 10,73 persen yang setara dengan 459.986 tenaga kerja. Jika kita ambil kategori terkecil saja, ada 459.986 birokrat yang bisa digerakkan untuk menulis buku, baik itu melalui program hibah, penerbit mayor, atau yang lebih mudah lagi dengan melakukan penerbitan mandiri (hlm. 8).

Dengan potensi tersebut, Pak Adrinal membayangkan, alangkah besar perubahan yang dapat dihasilkan terutama dalam konteks transmisi pengetahuan, pengalaman, dan best practice dari generasi birokrasi ke generasi berikutnya, meski mereka sudah pensiun.

Pasti ada banyak hal yang dapat ditulis oleh mereka yang bergelut dalam birokrasi, tentu dengan cara-cara yang elegan dan tidak melanggar etika birokrasi.

Baca juga: Buku dan Perspektifnya: Jara Mbojo Kuda-kuda Kultural (1)

Tidak melulu soal kelemahan birokrasi, namun bisa berupa apa saja: reformasi dalam tubuh birokrasi,  perubahan pola kerja akibat kemajuan teknologi informasi, fenomena makin banyaknya para birokrat milenial, kisah-kisah inspiratif, biografi tokoh dan inovasi kepala daerah  maupun beberapa best practice lainnya.

Apa saja yang dapat menjadi sumber inspirasi untuk menulis? Pak Adrinal memberikan tips bahwa ada banyak hal yang dapat diolah menjadi bahan tulisan seperti pekerjaan, aktivitas, pengalaman sehari-hari, dokumen kerja, materi presentasi, risalah rapat, perjalanan (dinas), hasil mengikuti pelatihan, opini, bidang yang menjadi kompetensi kita, biografi sendiri atau hobi. Dalam pengalaman Pak Adrinal sendiri, bahkan catatan harian pun bisa diterbitkan jadi buku (hlm. 9-10 dan 53).  

Dalam buku ini, Pak Adrinal mengingatkan bahwa menulis sebenarnya mudah asalkan ada tekad dan ketekunan. Menulis juga tidak mesti topik-topik berat tapi cukup menuliskan apa yang dirasakan, dipikirkan, diharapkan atau diketahui.

Saat melakukan perjalanan atau datang ke tempat-tempat baru misalnya, bisa diolah menjadi bahan tulisan ditambah sedikit googling beberapa informasi tambahan untuk memperkaya pengetahuan yang ada. Sebuah tulisan pun akan segera tersaji.

Menurut Pak Adrinal, menulis tidak memerlukan teori yang muluk-muluk. Sebab “menulis itu praktik” (hlm. 120). Tema-tema tulisan Pak Adrinal pun random: biografi, motivasi, manajemen, reformasi birokrasi, literasi, dan tentu saja bidang keahliannya sebagai akuntan.

Secara keseluruhan, buku  yang diterbitkan Penerbit Talenta Pena Publishing, Gresik, Jatim (November, 2022) ini terbagi dalam 7 bab. Semuanya merekam perjalanan awal perjuangan Pak Adrinal membangun Komunitas Sabisabu hingga bermetamorfosis menjadi yayasan.

Profil Sabisabu dan beberapa kegiatan yang sudah dilakukan berupa webinar, bedah buku, pelatihan penulisan, dan penerbitan buku (Bab 2), tokoh-tokoh yang berada di balik kekuatan Sabisabu (Bab 4), hingga testimoni dari  21 tokoh dari berbagai latar belakang, termasuk saya, mengenai kiprah Pak Adrinal dan Sabisabu.

Sayangnya, terdapat beberapa kesalahan kecil yang cukup mengganggu seperti kesalahan pengetikan dan tata tulis di beberapa bagian buku ini. Begitu pula dengan sejumlah pengulangan identitas tokoh di Bab 4.

Untuk memberi kesan lebih kuat kepada pembaca,  para tokoh yang mendukung Sabisabu di Bab 4 juga sebaiknya dilengkapi foto. Selebihnya, kita bisa menikmati gaya menulis Pak Adrinal yang mengalir, santai, dengan pilihan diksi yang renyah dan paling penting selalu inspiring! Mari mulai menulis karena menulis, seperti kata Pak Adrinal, merupakan “sarana  meluapkan emosi yang baik” (hlm. 17).[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *