Menarik mencermati polemik hari-hari ini di Kota Bima terkait dengan cold storage di PPI Tanjung Kota Bima (Kahaba.Net/20/1/2026). Hal ini mencuat setelah Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Pengurus Koperasi Amaliah Abadi sebagai pengelola cold storage dengan Komisi II DPRD Kota Bima yang kian membuka mata publik akan bobroknya tata kelola pemerintahan (good governance) yang baik.
Pasalnya, melalui kesempatan tersebut, terkesan, bahwa Pemerintah Kota Bima melalui Dinas Kelautan dan Perikanan hanya tunduk pada kepentingan politik pragmatis dan jangka pendek untuk memenuhi tuntutan janji-janji politik yang sebelumnya telah diucapkan. Hal ini menjadi preseden buruk bagi pemerintah baru hasil Pilkada serentak 2024 lalu.
Hal ini cukup beralasan jika kita mendengar RDP dan penjelasan dari pengelola cold storage. Di mana, pemutusan kontrak sepihak yang dilakukan oleh pemerintah tanpa alasan yang jelas. Kontrak yang sedianya berlangsung selama empat tahun (2024-2028) hanya dengan selembar surat dari dinas terkait untuk mengosongkan tempat tersebut.
Dicari: Kearifan Pemimpin
Di sinilah kearifan pemimpin ditagih. Karena keputusan untuk mengosongkan cold storage dari pengelola sebelumnya sama dengan mem-PHK-kan puluhan karyawan yang sebelumnya menggantungkan hidup dari aktivitas di PPI Tanjung tersebut. Di tengah, kondisi ekonomi negeri yang sedang kacau balau dengan inflasi yang tinggi dan lapangan kerja yang sulit langkah yang diambil oleh Pemerintah Kota Bima menjadi “hil yang mustahal” untuk masyarakatnya sendiri.
Kearifan pemimpin harus mengutamakan kolaborasi pentahellix dalam membawa Kota Bima ke depan. Sebab, jika kita hanya berdiam seperti katak dalam tempurung dengan hanya mendengar suara dari “kita” tanpa ingin mendengar suara dari “yang lain” hanya akan membawa daerah ke dalam jurang kedangkalan. Inilah yang harus dihindari oleh setiap pemimpin jika diamanahkan sebagai pengurus daerah.
Slogan the winner take all dalam alam demokrasi hari-hari ini sudah tidak relevan lagi untuk dilakukan. Kolaborasi lintas sektor, yang kalah-menang, yang di dalam dan yang di luar, orang kita dan orang mereka, harus bisa dijembatani oleh pemimpin. Jembatan antara kepentingan kelompok dan kepentingan publik harus bisa dimainkan dengan baik oleh seorang pemimpin politik.
Sebab, jika kita hanya mengutamakan kelompok kita atau orang-orang kita, kepentingan publik yang lebih luas dan jangka panjang akan dikorbankan juga. Cold storage yang yang telah beroperasi dan menghidupkan karyawan seharusnya harus di-maintenance dengan lebih baik lagi. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Publik yang harus menilai bagaimana predikat pemimpin kita.
Sumbang-Menyumbang PAD jadi Keluar
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bima salah satunya ialah yang disumbangkan oleh beroperasinya cold storage ini, Disebutkan dalam RDP, bahwa Koperasi Amaliah Abadi selalu berkontribusi dalam PAD Kota Bima setiap tahunnya ialah 57 juta rupiah untuk biaya sewa gedung dan lain-lainnya. Dari sini saja, kita bisa menilai bahwa keberadaan cold storage yang dikelola oleh Koperasi Amaliah Abadi berdampak positif.
Di sisi lain, PAD Kota Bima yang dilaporkan memiliki kenaikan di tahun 2025 penyumbang terbesarnya ialah deviden dari PT. AMMAN sebesar 74 miliar (Gardaasakota.com/17/1/2026). Di sini bisa kita lihat bahwa Kota Bima masih sangat bergantung deviden yang dihasilkan dari tambang. Ya, tambang emas terbesar itu.
Menurut saya, jika kita harus jujur, sebaiknya yang digenjot untuk menyumbang PAD ialah usaha-usaha produktif masyarakat atau sektor lain yang kelola oleh Pemerintah sendiri. Karena di tengah isu perubahan iklim global dan lingkungan, tambang ialah anomali yang banyak dikritik. Pemanfaatan sektor-sektor barang dan jasa pemerintah yang bisa menghasilkan penambahan pundi-pundi rupiah bagi masyarakat haruslah diapresiasi, bukan sebaliknya, bukan?
Very Good its Impossible
Menjadi sempurna itu mustahil. Namun, bisa kita mulai dengan langkah-langkah kecil dan sederhana. Langkah kolaborasi, kerja sama, saling menghargai, dan mengedepankan kepentingan publik jangka panjang.
Dari sini kita bisa mewariskan sesuatu yang berjangka panjang dan diingat oleh publik bahwa tata kelola pemerintahan yang baik telah dicerminkan dari Kota Bima. Tata kelola yang adil, setara, dan berdasar kepastian hukum. Jadi dengan kesan yang baik dan kepastian hukum yang terjamin iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi masyarakat kita dekat dengan kita.
Semua mencintai kota ini. Semua peduli pada kota ini. Karena itu, very good yang dimaksud ialah berita baik yang bisa kita dengar dan baca bahwa kota ini selangkah demi selangkah menuju kebermartabatan yang benar. Bukan kehormatan semu. Tapi dengan masyarakat yang dibuka aksesnya untuk sama-sama membangun kota ini. Kota kita.[]

Alumni Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Founder Komunitas Mbojo Itoe Boekoe





