MTs Alamtara Islamic School Gelar Orientasi Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun Pelajaran 2026/2027

KOTA BIMA – Di tengah tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang, kualitas sebuah madrasah tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan atau lengkapnya fasilitas belajar, tetapi terutama oleh kualitas manusia yang menghidupinya. Guru yang terus belajar, tenaga kependidikan yang bekerja dengan penuh dedikasi, serta budaya kerja yang dibangun di atas nilai-nilai keislaman menjadi fondasi utama lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan.

Berangkat dari keyakinan tersebut, Yayasan Alamtara Litera Indonesia melalui MTs Alamtara Islamic School Kota Bima menyelenggarakan Orientasi Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun Pelajaran 2026/2027 dengan mengusung tema “Membangun Guru dan Tenaga Kependidikan yang Pembelajar, Berkarakter, dan Berkhidmat untuk Peradaban Pendidikan Islam.” Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 27–28 Juni 2026, di lingkungan MTs Alamtara Islamic School, Kelurahan Ule, Kecamatan Asakota, Kota Bima.

Orientasi ini bukan sekadar agenda pembuka tahun ajaran baru. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang pembentukan karakter, penyamaan visi, penguatan komitmen, sekaligus momentum untuk mempererat ukhuwah di antara seluruh keluarga besar Alamtara.

Sebanyak 30 peserta yang terdiri atas guru, tenaga administrasi, operator sekolah, tenaga keamanan, petugas kebersihan, humas, konselor, bagian keuangan, koordinator program, hingga konsultan pendidikan mengikuti kegiatan ini dengan semangat kebersamaan. Kehadiran seluruh unsur tersebut menunjukkan bahwa membangun pendidikan bukan hanya tugas guru di ruang kelas, melainkan tanggung jawab seluruh elemen sekolah yang bekerja dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Yayasan Alamtara Litera Indonesia, Prof. Dr. H. Abdul Wahid, M.Ag., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa Alamtara tidak hanya ingin mencetak peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga membangun manusia yang memiliki akhlak, kepedulian sosial, kemampuan berpikir kritis, serta kecintaan terhadap alam sebagai bagian dari amanah Allah SWT.

Beliau mengajak seluruh guru dan tenaga kependidikan untuk memandang profesi sebagai ladang pengabdian, bukan sekadar pekerjaan. Menurutnya, setiap kata yang diucapkan guru, setiap pelayanan yang diberikan tenaga kependidikan, hingga setiap keteladanan yang diperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi pelajaran berharga yang melekat dalam diri para peserta didik sepanjang hidup mereka.

Baca Juga  Siap Menerima Peserta Didik Baru, Yayasan Alamtara Litera Indonesia Resmi Luncurkan Alamtara Islamic School

Selama dua hari penuh, peserta mengikuti berbagai sesi yang dirancang secara komprehensif. Hari pertama diawali dengan Talkshow Filosofi Pendidikan dan Jatidiri MTs Alamtara Islamic School yang menghadirkan Prof. Hj. Atun Wardatun, M.Ag., M.A., Ph.D. bersama Prof. Dr. H. Abdul Wahid, M.Ag., M.Pd. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami kembali hakikat pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia, bukan sekadar mengejar angka-angka akademik. Pendidikan dipandang sebagai jalan membangun peradaban melalui pembentukan karakter, budaya belajar, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Semangat tersebut kemudian diperkuat melalui sesi Peran Guru dan Tenaga Kependidikan dalam Ekosistem Madrasah yang disampaikan oleh H. Mansyur, S.Ag., Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bima. Materi ini menekankan pentingnya kolaborasi seluruh unsur sekolah agar setiap program pendidikan berjalan secara efektif dan memberikan dampak nyata bagi perkembangan peserta didik.

Tidak berhenti pada aspek filosofis, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai Budaya Kerja dan Tata Kelola Madrasah, Guru Sebagai Teladan Karakter, hingga Inovasi dalam Proses Pembelajaran Berbasis Alam. Beragam materi tersebut dirancang agar seluruh tenaga pendidik memiliki kesamaan persepsi mengenai budaya kerja yang profesional, adaptif terhadap perubahan, serta tetap berakar pada nilai-nilai Islam.

Suasana orientasi menjadi semakin bermakna ketika malam harinya seluruh peserta diajak melakukan refleksi bersama, merenungkan kembali makna menjadi seorang pendidik yang hadir untuk melayani, menginspirasi, dan memberi harapan.

Hari kedua dimulai sejak dini hari melalui shalat tahajud berjamaah, dilanjutkan dengan shalat Subuh berjamaah, Jogging, dan sarapan bersama di Amahami. Rangkaian kegiatan spiritual ini menjadi ciri khas orientasi Alamtara yang memadukan penguatan kompetensi profesional dengan pembinaan ruhani. Bagi Alamtara, guru yang hebat bukan hanya yang menguasai materi pembelajaran, tetapi juga yang memiliki kedekatan dengan Allah SWT sehingga mampu menghadirkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada sesi workshop, peserta memperoleh berbagai materi praktis mengenai Pembelajaran Berkualitas di Madrasah, Administrasi Guru dan Sistem Akademik, Manajemen Kelas dan Pendampingan Siswa, Sistem Evaluasi dan Pengembangan Guru, hingga Membangun Kerja Sama dan Engagement. Keseluruhan materi tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas guru dalam menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21 tanpa meninggalkan identitas keislaman yang menjadi ruh utama madrasah.

Baca Juga  Alamtara Islamic School Hadir di Bima, Fokus pada 3P untuk Wujudkan Generasi Unggul

Yang menarik, orientasi ini tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi guru yang baik, tetapi juga bagaimana menjadi rekan kerja yang saling mendukung, saling menghargai, dan mampu membangun budaya organisasi yang sehat. Ice breaking, diskusi kelompok, refleksi bersama, hingga berbagai aktivitas kolaboratif menjadi sarana mempererat hubungan antarpeserta sehingga tercipta rasa memiliki terhadap madrasah.

Melalui orientasi ini, MTs Alamtara Islamic School ingin menegaskan bahwa pendidikan yang berkualitas selalu dimulai dari kualitas manusianya. Ketika guru terus belajar, tenaga kependidikan bekerja dengan hati, dan seluruh elemen sekolah bergerak dalam visi yang sama, maka peserta didik akan tumbuh dalam lingkungan yang sehat, inspiratif, dan penuh kasih sayang.

Orientasi ini juga menjadi simbol bahwa setiap tahun ajaran baru bukan hanya tentang datangnya siswa baru, melainkan juga tentang lahirnya semangat baru bagi para pendidik untuk terus memperbaiki diri. Sebab sesungguhnya, guru yang berhenti belajar akan sulit melahirkan generasi yang gemar belajar.

Di tengah derasnya perubahan zaman, Alamtara memilih untuk tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman, mengembangkan budaya belajar sepanjang hayat, dan membangun pendidikan yang berpihak kepada tumbuhnya manusia seutuhnya. Dari sudut Kota Bima, semangat itu terus dinyalakan bahwa pendidikan bukan sekadar proses mentransfer ilmu, melainkan ikhtiar panjang membangun peradaban.

Dengan terselenggaranya Orientasi Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun Pelajaran 2026/2027, MTs Alamtara Islamic School berharap seluruh keluarga besar madrasah semakin siap melangkah bersama, menghadirkan layanan pendidikan yang unggul, humanis, dan penuh keberkahan. Sebab di tangan para pendidik yang terus belajar, masa depan generasi akan menemukan arah, harapan, dan cahaya untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *