Relasi Historis Nelayan Makassar dan Suku Aborigin Australia

SEBAGAI salah satu delegasi AIMEP (Australia-Indonesia Muslim Exchange Program), beberapa hari yang lalu saya memperoleh penjelasan penting tentang relasi historis Indonesia-Australia, dan suku Aborigin Australia.

Tema ini disampaikan oleh Uncle Andrew Gardiner (Tokoh Muslim Aborigin Australia) dan Dr. Lily Yulianti Farid (Direktur Makassar International Writers Festival). Tulisan berikut merupakan refleksi singkat saya tentang hubungan nelayan Makassar, Suku Aborigin, dan Islam di Australia.

“Nenek Moyangku Orang Pelaut” ternyata bukan hanya sekedar lagu anak-anak, tetapi benar adanya bahwa nenek moyang kita adalah pelaut ulung. Sejarah mencatat jejak nelayan Indonesia bukan hanya di laut Nusantara, tetapi juga sampai ke benua Eropa dan Australia. Sejak dulu masyarakat Indonesia dikenal gemar berlayar untuk melakukan perdagangan dan berburu kekayaan laut.

Hal ini bisa kita lihat dalam catatan sejarah, salah satunya yaitu relasi nelayan Makassar dan suku Aborigin di Australia, di mana nelayan asal Makassar pertama kali sampai ke daratan Australia bagian utara untuk mencari tripang (Sea Cucumber) dan menjalin hubungan perdagangan dengan suku Aborigin Australia.

Baca juga: Merantau untuk Membangun Negeri: Kearifan Hidup Diaspora Bima-Dompu

Relasi historis antara nelayan Makassar dan suku Aborigin ini telah terjalin jauh sebelum bangsa Eropa dan misionaris Kristen memasuki daratan Australia. Nelayan Makassar dipercaya telah  memasuki Australia sejak awal tahun 1500, jauh sebelum kolonial Inggris datang ke Australia pada tahun 1770.

Akulturasi Budaya dan Agama

Sebagaimana sejarah kehadiran Islam di Nusantara, Islam di Australia pun masuk melalui jalur perdagangan. Menariknya, melalui masyarakat asli suku Aborigin, Islam pertama kali masuk di Australia melalui hubungan perdagangan antara suku Aborigin dan nelayan Makassar.

Sehingga relasi nelayan Makassar dan suku Aborigin Australia tidak hanya sebatas hubungan bilateral, tetapi lebih dari itu. Mereka memiliki relasi budaya dan agama yang sangat kuat, terutama kehadiran agama Islam di Australia. 

Para nelayan asal Makassar yang merupakan mayoritas muslim berinteraksi dengan suku Aborigin dalam waktu yang lama dalam transaksi tripang. Sebagian nelayan Makassar menikahi wanita suku Aborigin dan melahirkan keturunan yang disebut dengan suku Aborigin “marege” yang berbahasa Melayu. Marege dalam bahasa Aborigin berarti “orang yang datang dari jauh” yang merujuk kepada nelayan Makassar.

Baca Juga  Penulis Antimainstream, Saya atau Anda?

Kedatangan nelayan Makassar di Australia tersebut cukup mempengaruhi cara keberagamaan suku Aborigin. Sehingga secara spiritual, beberapa mitologi dan kepercayaan suku Aborigin dipengaruhi oleh ajaran dan praktik keberagamaan Islam. Hal tersebut terwujud dalam bentuk lagu, doa, tarian, lukisan, hingga ritual pemakaman.

Salah satu contohnya adalah sosok yang disebut Walitha’walitha, yang disembah oleh klan Yolngu di Pulau Elcho, bagian utara pantai Arnhem Land. Nama tersebut oleh para antropolog dipercaya berasal dari frasa bahasa Arab “Allah ta’ala”, yang berarti “Tuhan, Yang Maha Tinggi”. Walitha’walitha berkaitan erat dengan ibadah salat, doa, dan ritual pemakaman yang dilakukan oleh nelayan muslim asal Makassar.

Oleh karena itu, relasi historis nelayan Makassar dan suku Aborigin ini tentu bukan hanya sebuah kekayaan sejarah saja, melainkan juga fakta terjadinya proses akulturasi atau menyatunya nilai-nilai budaya dan ajaran agama.

Baca juga: Bima Diaspora dan Bawang di Banjarmasin

Hingga saat ini, Islam di Australia merupakan agama yang perkembangannya cukup pesat. Jumlah pemeluk agama Islam terus bertambah dan jumlah masjid dan sekolah Islam pun terus meningkat. Islam menjadi agama terbesar ke empat setelah Kristen, Ateisme, dan Budhisme dengan populasi 2,6% (604.200 jiwa) dari total penduduk Australia.

Diskriminasi dan Pelanggaran HAM

Australia juga memiliki sejarah panjang terkait diskriminasi rasial terhadap suku Aborigin. Praktik diskriminasi tersebut dikenal dengan Stolen Generation atau generasi yang terampas di mana anak-anak dipisahkan secara paksa dari orang tuanya atas nama kesejahteraan.

Kasus diskriminasi ini bermula ketika pemerintah Australia mengeluarkan kebijakan untuk memberikan kesejahteraan dan akses pendidikan yang baik kepada anak-anak suku Aborigin yang tidak terurus. Namun niat baik tersebut justru merupakan titik awal peminggiran dan penghapusan budaya masyarakat Aborigin.

Di mana dalam pelaksanaannya, pemerintah Australia tidak hanya mengambil anak-anak yang tidak terurus tetapi semua anak suku Aborigin diambil secara paksa dan dipisahkan dari orang tuanya. Anak-anak yang sudah diambil oleh pemerintah Australia tersebut tidak akan bisa lagi bertemu dengan orang tua mereka.

Baca Juga  Nasib Alumni TK Senayan

Anak-anak tersebut kemudian dikumpulkan dalam sebuah camp, yang selanjutnya diedukasi tentang gaya hidup orang kulit putih yang dianggap lebih maju dan modern. Ketika anak-anak tersebut memasuki usia dewasa, mereka akan keluar dari camp untuk selanjutnya dipekerjakan sebagai budak bagi keluarga kulit putih di Australia.

Hal inilah yang menyebabkan banyak pihak, terutama aktivis HAM mengklaim bahwa Stolen Generation bukan hanya sekedar bentuk diskriminasi rasial tetapi juga merupakan pelanggaran HAM berat karena mengandung perbudakan dan upaya penghapusan budaya dan memutus mata rantai generasi suku Aborigin.

Atas kasus pelanggaran HAM berat tersebut, pada tahun 2008, Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd melalui pidatonya menyatakan permintaan maaf kepada suku Aborigin atas segala dosa masa lalu yang dilakukan oleh pemerintah Australia terdahulu kepada masyarakat Aborigin. Permintaan maaf tersebut disampaikan khususnya kepada para generasi dari Stolen Generation.

Baca juga: Perantau Bima dan Refleksi Budaya Maritim

Kevin Rudd pada saat yang sama kemudian menjadikan tanggal 26 Mei sebagai hari peringatan “National Sorry Day” atau “Hari Maaf Nasional”, yaitu hari untuk mengenang masyarakat suku Aborigin yang termarginalkan karena kebijakan masa lampau pemerintah Australia.

Hingga saat ini, suku Aborigin, sebagai suku asli Australia, masih terus memperjuangkan hak hidup yang setara dengan warga kulit putih meskipun populasi mereka semakin berkurang. Salah satu pejuang hak Suku Aborigin tersebut adalah Uncle Andrew Gardiner yang juga merupakan salah satu pembicara dalam program AIMEP dalam tema Historical Links and Indigenous Australia.

Uncle Andrew adalah tokoh muslim Aborigin yang terus berupaya memperjuangkan hak-hak suku Asli Australia di pemerintahan melalui posisinya sebagai anggota Majelis Rakyat Victoria pertama yang dipilih secara demokratis dari kalangan muslim Aborigin sejak tahun 2019.[]

Ilustrasi: Kompas.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *