Ikan-ikan Syubhat yang Disingkirkan Ibu

JAUHNYA sekolah kami tidak terkira. Ini karena kampung kami letaknya di pinggiran, di bawah Doro (gunung) Londa, sementara kami harus bersekolah di pusat kota. Perjalanan yang harus kami tempuh mempersyaratkan etos kejuangan, seperti para serdadu.

Dari ambang kampung sampai ke Suncu Tengge—persimpangan batas jalan negara beraspal licin—jalannya berbatu-batu, sempit, penuh semak di sisi kiri dan kanan. Ada titik-titik angker yang sering digembar-gemborkan orang, membentang dari tikungan Telaga Tua sampai puncak tanjakan. Jiwa belia kami diuji bertubi-tubi, kelak apakah akan jadi penakut atau pemberani.

Istilah kami untuk jalan itu bukan ke barat atau ke timur, tapi naik atau turun. Ia membelah dan menaiki gunung. Jalan setapak, tidak lain dan tidak bukan, yang hanya dilalui penduduk kampung dengan berjalan kaki. Hanya kaki mereka yang tangguh yang sanggup menempuhnya setiap hari.

Perjalanan rutin kami pergi dan pulang sekolah nihil riang gembira yang lahir secara otentik. Yang ada hanya teror dan “teror”. Siasat demi siasat. Lama-lama jadi seni.

Untuk menyiasati perjalanan itu menjadi seni, kami menyusun formasi. Yang disebut kami itu adalah sembilan anak kampung yang telah menggantungkan cita-cita setinggi langit, dengan bersekolah di kota. Sembilan orang itu kami sepakati jadi tiga kawanan, dengan anggota tiga tiga, yang dibagi awalnya pake sut, lama-lama jadi kemistri. Tiga kawanan itu harus berjalan terpisah, dihela oleh jarak seratus meter seratus meter. Ini taktik belaka agar musuh yang mengintai menjadi gentar.

Kawanan mana yang di depan, di tengah, dan belakang telah diatur secara bergilir. Ada saja yang coba berkhianat, menghindari giliran di depan atau di belakang. Namun mekanisme hukuman bagi siapa yang berkhianat ‘harus menarik salah seorang di tanjakan’ yang kami terapkan efektik menghentikan pengkhinatan.

Untuk menjaga ritme dan jarak yang aman, kami ciptakan yel-yel untuk masing-masing kawanan yang disorakkan pada titik-titik tertentu yang disepakati. Suara yel-yel itu alat pengukur jarak antarkawanan, untuk memastikan rasa aman.

Kawananku dianggap paling solid. Anggotannya Duhami, Dola, dan aku. Kami tiga sekawan yang sulit untuk dipisah meski sering cekcok. Duhami suka usil, Dola yang ketus, dan akulah yang berpura-pura jadi hakim jika keduanya bertengkar.

“Kalian dengar dan percayalah, Baba Jeko jagoan kampung kita itu dua minggu lalu berkelahi dengan hantu jelmaan penyihir renta yang telah lama dikuburkan di Gunung Tambora. Penyihir itu muncul lagi di sini dengan menggeret peti rantai,” cerita Duhami, yang punya kebiasaan menakut-nakuti.

“Tidak usah bercerita seperti itu, Cinae! Kampung masih jauh!” kata Dola, yang selalu punya cara menangkal kenakalan Duhami. Dola mewakili kedongkolan hatiku juga.

Kami berjalan saja terus menaiki tanjakan, tanpa kata-kata yang menyebabkan keriuhan perjalanan pulang dari sekolah, menjelang sore. Seakan-akan tiada jenis ketakutan manapun yang menyelimuti. Tetapi, lima langkah melewati bayangan pohon kamboja yang bertengger di puncak tanjakan, kami segera berhamburan dan menghasilkan gemuruh. Kami berlomba mencapai “rest area” tempat kami biasa istirahat. Di situ ada gubuk petani tebu yang berdiri di sisi kebun, membuat rasa aman terkumpul kembali. Pemilik kebun itu Ompu Teho, kakek kekar yang selalu menenteng tongkat bambu berkeliling kebun—adalah hero bagi kami.

Pada musim-musim tertentu, terutama di sore hari, perjalanan kami dibayang-bayangi oleh sosok imajiner ‘kalila,’ yakni orang asing berambut gondrong, berwajah garang, kulit gelap, badan kekar, bawa pedang sambil jinjing karung, memburu anak-anak yang lengah untuk tumbal proyek jembatan. Kakek hero itulah yang membuat kami bisa bertahan selama ini dari gempuran bayangan tentang kalila jahannam itu.

Setiap hari sekolah, kami harus pulang pergi dengan berjalan kaki. Tidak ada angkutan umum yang bisa lewat. Honda (ya honda!), Honda Gelatik hanya sesekali melintas, milik Guru Relo, atau Yamaha bebek milik Papa Hatta (Cina Muslim di kampung kami). Sesekali lewat juga honda orang tak dikenal, dan ini diam-diam kami tunggu: jika membonceng cewek berseragam putih-abu serta-merta kami curigai hendak mesum, di balik semak-semak sekitar situ. Jika benar, hilanglah segala rasa takut, cemas, dan lelah, diganti kegesitan. Tetapi tetap saja akhirnya tersengal-sengal karena kami harus berlari menyusuri semak berduri untuk membuntuti, menyaru seperti serdadu klandestin.

Demi amar ma’ruf nahi mungkar, mas bro! Begitu retorika kami untuk melakukan transendensi atas ketakutan. Juga meringkus teror demi teror.

Baca Juga  Moral yang Lahir dari Halaman-Halaman Fiksi

Juga demikianlah cara Tuhan turut tangan memperkuat kaki-kaki kecil kami, terutama melalui doa-doa yang dipanjatkan ibu-bapak kami saat melepas kami pergi sekolah di pagi buta. Alam pun secara lembut sering sayang sama kami.

Sebagai hiburan, gunung di sisi selatan jalan menyuguhkan cericit burung-burung, sementara so (bentangan lahan kering) di sisi utara menyediakan ringkik kuda. Jika lagi beruntung kami bisa melempar ayam hutan, perkutut, puyuh, atau kacoronanga dari jarak dekat, terutama di musim hujan. Yang seru tentu memergoki kuda kawin, atau ikut membantu pemburu menghalau menjangan.

Saat lapar tidak jarang kami temui garoso (srikaya) atau loka (pohon lokal Bima) yang luput dari petikan pemiliknya, atau yang sengaja kami sembunyikan di semak-semak saat berangkat. Tentu ini sekedarnya, dan sisa, tidak sampai pemiliknya jatuh bangkrut. Pemiliknya tidak marah jika sesekali memergoki kami memetik buahnya yang menjorok ke jalan. Mereka merelakan itu sebagai hak umum, persis ajaran kitab-kitab suci.

Jika haus, ada saja cara Tuhan menolong, misalnya menampakkan sisa potongan tebu, meskipun kami harus merampasnya dari semut-semut. Pake dobu itu kami kunyah sekunyah-kunyahnya sampai jadi tepung, lalu kami jadikan mainan semburan sebagai salam perpisahan saat sampai di ambang kampung.

Kekuatan kami adalah percaya pada kata-kata guru, yang dipetiknya dari hadis: “Engkau yang berjalan menuntut ilmu, dipayungi oleh sayap-sayap malaikat.”

Suatu hari, kami harus pulang kesorean, karena tertahan di sekolah untuk menjalani rutinitas Latihan Pramuka. Kami menapaki jalan di bawah naungan sayap-sayap malaikat itu. Seperempat perjalanan pulang ini, qadarullah, jalanan beraspal mulus. Maklum itu jalan negara. Tetapi tetap saja “teror” hawa panas aspal menjalar dari sepatu karet kami yang sudah menipis. Jika tidak tertahankan, kami tak ragu turun ke pantai sepanjang Ama Hami, untuk pendinginan dengan air laut atau pasir yang basah.

Lapar jualah yang mendorong kami meloncat ke tumpukan bebatuan di samping sebuah kapal karam yang teronggok jadi bangkai. Sasaran kami tire (tiram) yang menempel di bebatuan sekitar kapal kayu itu. Jika tidak lapar pun kebiasaan itu tetap kami lakukan, sebagai hiburan atas sumpeknya sekolah, sekaligus untuk menunggu para buruh orang sekampung yang pulang dari dermaga Bima agar bisa mengarungi bersama jalanan pulang.

Laut sedang surut, seperti ditarik ke arah barat oleh matahari senja. Lembayung menggenangi teluk, kilauan oranye dipecahkan oleh badan kapal milik saudagar Banjar yang bisnisnya pailit.

Bebatuan di sekeliling kapal itu sarangnya tire, sedangkan pasir-pasirnya habitat kerang kasi’i. Aku berlarian ke arah tumpukan batu yang membentuk cerukan kolam kecil. Bukan batu tiram yang aku dapati, melainkan sekumpulan ikan yang terdampar. Aku girang.

“Hei, semua, sini!” aku memanggil dua sahabatku yang lagi sibuk toke tire (mengorek tiram) di dekat lambung kapal. Kami pun memutuskan untuk mengambil ikan itu setelah memastikannya bukan bangkai. Ada lima ekor, kutaksir semacam baronang. Sebagai penemu, akulah yang bertindak sebagai pembagi. Mereka berdua dapat satu-satu sedang aku tiga. Cara bagi yang sulit, tapi adil, bukan?

Dengan senang hati kami naik kembali ke jalan seiring datangnya para buruh yang kami tunggu. Kali ini mereka berdua saja, tapi cukup untuk mengubur ketakutan pada senja itu. Sekarang kami menjadi berlima.

Ketika kami menyeberangi jalan menuju Suncu Tengge, kami berpaling kembali ke arah kapal, karena terdengar ada yang berteriak memanggil-manggil. Seseorang tergopoh menuju kami dari arah kapal itu, sambil berbicara sesuatu—semacam bede—tidak jelas buah bicaranya. Sosoknya pun kabur, dibaluri oleh kilauan matahari senja. Kami mempercepat langkah, siapa tahu ia jenis kalila itu.

Tidak sampai mendekat, terlihat ia berbalik arah, menuju cerukan pasir di sisi kapal yang sudah koyak separuh lambungnya. Tampak ia berkacak pinggang, lalu menoleh lagi ke arah kami yang terus saja melangkah.

Ia kembali berlari ke arah kami, tetapi saat ia mendekat buruh-buruh pengawal kami memperlambat langkah sambil mengayunkan ganco (alat pemegang karung) yang mereka tenteng di tangan, memberi isyarat perlawanan. Ciutlah nyali “kalila” itu dengan tingkah para buruh kami.

Baca Juga  Letters to Faizah: Sabda Perlawanan dari Teheran [1]

Kami tertawa cecikikan, karena ternyata ada kalila yang takut dengan ganco. Kami pun jumawa dengan para buruh kampung kami yang memang terkenal ditakuti di kalangan orang-orang di kampung Guda (kampung pelabuhan di Bima).

“Hamjale memang jago!” puji Dola, merujuk kepada mandor palabuhan, yang badannya paling kekar.

“Hamjale Tiiipataha!” teriak Duhami, dengan nada memberi aba-aba untuk yel-yel kebanggan kami.

“Hurra!… Hurraa!… Hurraaa!” sorak kami serentak.

Sorakan yel-yel begini memang telah lama kami ciptakan untuk merayakan pembebasan dari rasa takut yang membekap selama perjalanan. Biasanya disorakan begitu kami masuk ke ambang kampung.

Tiba di shelter—peristirahatan menjelang masuk kampung tempat kami mengabsen anggota kawanan sekolah—kami menyadari ada sesuatu yang harus diperiksa secara saksama. Salah seekor ikan yang menjadi bagianku, setelah kuamati memiliki bekas mata pancing yang patah dengan senar yang masih tertanggal pada bagian insangnya.

“Ikan saya juga ada bekas copotan mata kail, sepertinya hasil pancingan,” cetus Duhami.

Dola tidak banyak bicara, ia menguak-nguak bungkusan daun loka dan merogoh mulut ikan yang ada di dalamnya. Ia tidak mengklaim apa-apa kecuali wajahnya yang mengerut. Kami saling pandang satu sama lain.

“Jadi, kita sudah salah sangka?!” cetusku. “Ikan-ikan yang kita bawa ini hasil pancingan orang!? Ada yang punya!?” klaimku, tapi masih menyimpan tanda tanya.

Aku tiba-tiba ingat kalau di dekat ikan-ikan saat kami pungut di cerukan pasir pantai tadi itu ada senar. Wah, jangan-jangan itu bukan ikan terdampar, tapi punya nelayan yang sengaja menyimpannya di genangan air agar tidak mati. Orang yang kami sangka kalila itulah mungkin yang punya ikan-ikan ini.

Tetapi untuk menyelidikinya kembali sudah terlambat. Jika kami kembali ke pantai pasti akan ditinggal oleh tetua-tetua itu, dan kami bisa jadi akan bertemu kalila sesungguhnya. Kemungkinan terakhir ini besar, tetapi kami harus punya cara menutupi rasa berdosa jika memang seperti itu adanya.

Kami akhirnya bersepakat: ya memang orang yang tadi mengejar kami itulah yang punya ikan-ikan ini. Tapi ia juga ngapain sih pake bersembunyi di badan kapal itu kalau bukan untuk niat jahat, misalnya menggerogoti badan kapal, mencongkel papannya, atau mencabut baut-baut kuningannya.

Jadi impaslah. Itulah cara Tuhan mengganjar kelakuaan hamba-hambanya. Dengan rekaan ‘public reasoning’ seperti ini, kami jadi enteng membawa pulang ikan-ikan itu ke rumah.

Itu hari Sabtu. Besok hari Minggu ada final pacuan kuda. Aku harus ikut nonton si Riru kuda jagoan kampung kami. Tapi ibu! Ibu pasti tidak mengijinkan pergi ke ‘sarang judi’ itu. Sambil menenteng tiga ekor ikan besar itu, aku berpikir dengan inilah ibu bisa luluh hatinya.

Orang serumah senang melihat aku membawa ikan-ikan, besar-besar. Ini pertanda baik bagi esok hari, pikirku. Tapi salah seorang buruh yang tetanggaku bercerita keras-keras, padahal Magrib, mengenai duduk perkara ikan-ikan itu. Ibu rupanya menguping, lantas mengambil ikan-ikan itu di dapur, membungkusnya, dan tanpa ragu membuangnya ke tempat sampah di belakang rumah. Aku dan saudara-saudaraku diam, saling memandang.

Aku rupanya dikenai hukuman sepadan. Besoknya aku ditugaskan untuk ke sawah, menyemprot pestisida pada tanaman kedele yang sedang berbunga. Ini menjadi berat berlipat, sementara kuketahui dua karibku, Duhami dan Dola, bisa pergi ke pacuan kuda. Kedele itu bukannya aku semprot, malah aku injak-injak. Jika besok ibu menengok sawahnya, pasti ia kecewa.

Besok aku harus ke sekolah lagi. Bayangan kalila dan sang pemilik ikan menggelayut dalam mimpiku malam ini. Mungkin juga mimpi-mimpi kawananku.()

Ilustrasi: Sidzia Madvox

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *