Bullshit Job: Sibuk yang Menguras Hidup, Tapi Kosong Makna, dan Sebuah Tawaran untuk NTB

ADA kerusakan yang tidak berisik. Ia tidak meledak seperti krisis. Tidak memicu demo. Tidak muncul sebagai angka pengangguran. Ia hadir setiap pagi, rapi berpakaian, membawa tas kerja, membuka laptop, lalu menghabiskan hidupnya—untuk sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ada.Inilah kerusakan paling sunyi di negeri ini: pekerjaan ada, tapi tidak bermakna. Orang berangkat pagi, pulang malam. Rapat […]

Bullshit Job: Sibuk yang Menguras Hidup, Tapi Kosong Makna, dan Sebuah Tawaran untuk NTB Read More »

Literasi sebagai Jalan Pemerdekaan Jiwa, Kepemimpinan Bernalar, dan Keunggulan Mindset Wirausaha

MEMBACA adalah titik berangkat kemanusiaan. Sejarah manusia tidak dimulai dari senjata, tetapi dari kesadaran. Dan kesadaran tidak lahir dari kekuasaan, melainkan dari membaca.Ketika wahyu pertama turun, langit tidak memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk menguasai, menaklukkan, atau memerintah. Perintah itu jauh lebih sunyi, namun dampaknya mengguncang peradaban: Iqro’. Bacalah.Perintah ini menegaskan satu hal mendasar: manusia tidak

Literasi sebagai Jalan Pemerdekaan Jiwa, Kepemimpinan Bernalar, dan Keunggulan Mindset Wirausaha Read More »

ISLAM DAN KEKACAUAN (?): Menimbang Ulang Cara Pandang, Membongkar Inferioritas, dan Mengembalikan Martabat Nalar Islam

Tulisan ini menyorot karya Wangsyah berjudul “Kekacauan dalam Agama, Mengapa Terjadi?” yang dimuat alamtara.co (19 Juli 2020):https://alamtara.co/2020/07/19/kekacauan-dalam-agama-new-normal-dan-titik-balik-spritualitas-masyarakat-modern/Tulisan itu sejak awal telah memikul problem epistemik yang serius. Bukan karena pertanyaannya tidak penting—justru pertanyaan tentang kekacauan adalah pertanyaan peradaban—melainkan karena kerangka berpikir, asumsi dasar, dan rujukan intelektualnya sejak judul sudah keliru arah.Jika yang dimaksud “agama” dalam tulisan

ISLAM DAN KEKACAUAN (?): Menimbang Ulang Cara Pandang, Membongkar Inferioritas, dan Mengembalikan Martabat Nalar Islam Read More »

Membaca Isyarat Ramadhan: Refleksi Purnama yang Mulai Menipis

Bayang-bayang Ramadhan kini sudah kelihatan samar-samar. Ia belum sepenuhnya hadir, tetapi jejaknya sudah terasa di udara batin umat Islam. Bulan purnama yang beberapa malam lalu bersinar penuh, pelan-pelan mulai menipis cahayanya—seakan memberi isyarat bahwa satu fase akan segera tergulung oleh datangnya bulan yang baru. Alam pun seperti ikut berzikir, memberi tanda bahwa waktu sedang beralih,

Membaca Isyarat Ramadhan: Refleksi Purnama yang Mulai Menipis Read More »

KURIKULUM BERBASIS CINTA: Tepatkah Penamaannya? Menimbang Substansi, Menjernihkan Makna, Menjaga Martabat Islam

Kementerian Agama Republik Indonesia memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai sebuah terobosan dalam pendidikan agama di madrasah. Ia diperkenalkan dengan niat baik: menghadirkan wajah Islam yang lebih ramah, humanis, inklusif, dan penuh kasih sayang.Baca Dulu: Kurikulum Berbasis Cinta: Revolusi Sunyi Pendidikan KemanusiaanSekilas, gagasan ini terdengar indah. Bahkan memesona. Siapa yang menolak cinta? Siapa yang menentang

KURIKULUM BERBASIS CINTA: Tepatkah Penamaannya? Menimbang Substansi, Menjernihkan Makna, Menjaga Martabat Islam Read More »

Masihkah ini Disebut Republik?

Hari demi hari masalah yang nampak semakin menjadi-jadi sehingga banyak rakyat yang muak dengan berita-berita yang menunjukkan bahwa pemerintah sangat tidak layak untuk memerintah negara ini, terlebih banyak pernyataan-pernyataan dari pejabat publik yang sungguh tidak masuk akal bagi realitas saat ini.Indonesia disebut sebagai negara “Republik”, yang menjadi pertanyaan utama adalah, “apakah ini masih disebut republik”.

Masihkah ini Disebut Republik? Read More »

Facebook Pro: Bikin Cuan atau Bikin Pusing?

Perkembangan media sosial saat ini semakin jauh dari sekedar tempat berbagi cerita, foto dan video. Salah satunya Facebook, menghadirkan fitur Facebook Pro (mode profesional) yang memungkinkan pengguna mendapatkan uang dari konten yang mereka buat. Fitur ini membuka peluang baru, tetapi juga memunculkan tantangan yang tidak sedikit.Tantangan tersebut meliputi persaingan konten yang semakin ketat, tuntutan konsistensi

Facebook Pro: Bikin Cuan atau Bikin Pusing? Read More »

Islam Kaafah: Antara Keterbukaan yang Beradab dan Kekacauan Epistemik (Tanggapan Kritis atas Salman Akif Faylasuf)

Pendahuluan: Ketika “Keterbukaan” Kehilangan ArahTulisan Salman Akif Faylasuf tentang Islam Kaafah sekilas tampak cerdas, kaya rujukan, dan berlapis sejarah. Ia mengajak pembaca menyusuri lorong panjang interaksi Islam dengan berbagai peradaban—India, Persia, Yunani, Tiongkok—lalu menyimpulkan bahwa Islam kaafah sejatinya adalah Islam yang terbuka, kosmopolitan, hibrid, dan cair.Namun justru di sinilah problem utamanya bermula.Keterbukaan yang tidak ditopang

Islam Kaafah: Antara Keterbukaan yang Beradab dan Kekacauan Epistemik (Tanggapan Kritis atas Salman Akif Faylasuf) Read More »

Mimpi yang Digaji Negara

Generasi hari ini patut berbangga. Mereka tidak lagi direpotkan oleh pertanyaan kuno seperti “untuk apa saya hidup?” atau “apa gunanya ilmu?” Semua itu sudah diringkas secara efisien menjadi satu rumus modern: jabatan + gaji + jaminan hidup = makna. Rumus ini praktis, ramah orang tua, dan sangat cocok untuk negara yang gemar memelihara kepatuhan.Para sarjana

Mimpi yang Digaji Negara Read More »

Moderasi Beragama: Ketika Islam Diminta Menjadi Apa yang Sejak Awal Ia Sudah Miliki (Tanggapan untuk Prof. Dr. Abdul Wahid)

Ada keganjilan yang sejak awal mengusik nalar dan rasa-perasaan saya setiap kali frasa “moderasi beragama (Islam)” diucapkan, ditulis, dan dilembagakan. Bukan karena saya menolak hidup damai, toleran, atau berkeadaban—justru sebaliknya. Keganjilan itu muncul karena frasa tersebut menempatkan Islam pada posisi yang seolah problematik, seakan ia membutuhkan koreksi, penjinakan, atau rehabilitasi etik agar layak hidup berdampingan

Moderasi Beragama: Ketika Islam Diminta Menjadi Apa yang Sejak Awal Ia Sudah Miliki (Tanggapan untuk Prof. Dr. Abdul Wahid) Read More »