Cita-cita (Beban!) Seorang Guru Besar

APA YANG disebut cita-cita, bagi saya, sebenarnya kata lain dari beban. Ya, beban! Tuntutan dari amanat yang diemban oleh seorang akademia yang telah sampai ke jenjang akademik tertinggi itu.Bayangkan, nggak ada yang sebelum jadi profesor acak-acakan lalu klimis setelahnya. Yang terjadi sebaliknya. Sudah gitu, banyak pantangan, biar pun minum kopi di pinggir jalan (ya lah, […]

Cita-cita (Beban!) Seorang Guru Besar Read More »

Menakar Diri di Momen Pergantian Tahun

PERGANTIAN tahun menjadi momen membahagiakan dan ditunggu-tunggu oleh sebagian besar orang, terutama bagi siapa saja yang memiliki pola kehidupan yang progresif, karena di dalam setiap proses pergantian pasti akan terjadi perubahan. Jangankan pergantian tahun, dalam pergantian detik saja bagi yang progresif pasti optimis akan terjadi perubahan yang berarti.Idealnya kita semua harus demikian, bahwa kehidupan yang

Menakar Diri di Momen Pergantian Tahun Read More »

Autoetnografi Gender: Pengalaman Menjadi Minoritas sebagai Anak Perempuan (2)

SITUASI yang tak kalah mengerikan adalah ketika memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) — sekaligus masa puber yang mengerikan untuk dikenang—dimana suatu keadaan aku dipaksa oleh teman-teman kelas untuk berpacaran, untuk pertama kalinya. Anehnya aku tidak dapat menolak, karena sudah pasti aku akan diancam oleh mereka. Pengalaman bullying yang aku dapati dari kecil tenryata mempengaruhi

Autoetnografi Gender: Pengalaman Menjadi Minoritas sebagai Anak Perempuan (2) Read More »

Agama-Agama Pra-Islam dalam Berbagai Sorotan (4-Habis)

CATATAN kritis terhadap buku ini, disampaikan oleh Prof. Nur Syam. Prof. Nur Syam adalah salah seorang pakar sosiologi yang dimiliki UIN Sunan Ampel Surabaya. Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media online, blog pribadi, maupun media cetak bahkan sudah banyak yang terbit menjadi buku. Karena itu, beliau dijuluki “profesor senior” atau “profesor-nya profesor UINSA”.Pada momen bedah buku

Agama-Agama Pra-Islam dalam Berbagai Sorotan (4-Habis) Read More »

Puisi dan Politik Sepanggung: Kita Bertepuk Tangan

DI akhir 1995, Wislawa Szymborska masih termenung dengan kesendiriannya di rumah kecil di tengah hutan. Ia bukan seorang pembangkang, meski pengagum komunis sejati. Puisinya tidak berbicara tentang politik. Mungkin saja akibat diksinya yang terlalu halus, sehingga politik tidak terpahat dengan jelas. 50 tahun kepenyairannya sudah cukup menjadikannya diva. Bukan sembarangan. Nobel kesusatraan tahun 1996 bukti

Puisi dan Politik Sepanggung: Kita Bertepuk Tangan Read More »

Mewaspadai Memuji Diri Sendiri

PUJIAN terkadang menjadi sesuatu yang diharap oleh semua orang sebagai wujud eksistensi diri yang dirasa pantas untuk mendapatkan penghargaan atas jerih payah yang telah dilakukan, juga kadang dapat menjadi penyemangat untuk mengukir prestasi dan capaian berikutnya.Tak jarang ada unsur kesengajaan dari seseorang untuk memperlihatkan diri hanya sekadar ingin mendapat pujian, sanjungan, dan pengakuan dari orang-orang

Mewaspadai Memuji Diri Sendiri Read More »

REALITAS

PADA satu kesempatan saya pernah menulis: “…realitas yang kita sepakati sebagai realitas tak lebih sekedar mitos dari hasil konstruksi sosial-budaya masyarakat komunal. Kita berhalusinasi setiap saat, dan ketika halusinasi tersebut disepakati, dengan segeranya kita menyebutnya sebagai ‘realitas‘…”—(Abdul Wahid & Hendrawangsyah, 2021).Saya ingin melanjutkan logic dari pernyataan di atas—dengan pertama-tama meminjam perspektif William James —yang menempatkan

REALITAS Read More »

Quasi Hegemoni ala Maroko

George Orwell, seorang penulis Inggris dalam tulisannya Marrakech tahun 1939 menyitir dengan sedikit nada sinis orang-orang Maroko. “…Apa arti Maroko bagi seorang Prancis? Kebun jeruk atau pekerjaan di pemerintahan. Apa arti Maroko bagi seorang Inggris? Unta, benteng, pohon kelapa, Legiun Asing Prancis, nampan kuningan, dan penyamun…Dan bagi sembilan dari sepuluh penduduk, kenyataan hidup adalah berjuang

Quasi Hegemoni ala Maroko Read More »

Memahami Kehidupan sebagai Festival

TUHAN menggunakan diksi yang berbeda-beda dalam membahasakan realitas kehidupan yang kita jalani di bumi, yang dituangkan dalam beberapa ayat di dalam firman-Nya, seperti  pilihan diksi bahwa kehidupan ini bagaikan permainan dan senda gurau (hāżihil-ḥayātud-dun-yā illā lahwuw wa la’ib), kemudian kehidupan ini menjadi ujian (Allażī khalaqal-mauta wal-ḥayāta  liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā) dan disebut juga bahwa kehidupan

Memahami Kehidupan sebagai Festival Read More »

Agama-Agama Pra-Islam dalam Berbagai Sorotan (3)

BERKAITAN dengan persoalan agama sebelumnya, menurut Gus Ghofur, al-Qur’an itu sama sekali tidak me-naskh kitab zabur dan injil, karena al-Qur’an merupakan mushoddiq ajaran sebelumnya. Dalam QS. Al-Syura: 13 dijelaskan:“Diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan

Agama-Agama Pra-Islam dalam Berbagai Sorotan (3) Read More »